Courtesy of Youtube, Etis Gak Sih?

24 Nov

Perhatiin gak, beberapa tahun belakangan ini kita sering banget disuguhi dengan berbagai informasi yang temanya berbau Top10, Top5, titik-titik (Sebut angka, biasanya 10 ke bawah) Terbaik, titik-titik Teraneh, titik-titik Terunik, dan su’un, dan su’un yang ter ter-an atau yang paling-paling-an.

Di dunia perinternetan, tema-tema tersebut sudah sangat lama berseliweran. Banyak banget orang-orang yang berbaik hati untuk sharing, baik berupa tulisan atau unggahan video yang membahas seputaran hal tersebut. Temanya mulai dari yang simpel seperti Top10 keajaiban dunia sampai yang gak simpel seperti penampakan makhluk halus paling menghebohkan atau fakta seputar hal-hal ghoib.

Dalam dunia perkaskusan, soal ter ter ter udah umum dibahas, biasanya kalau thread kaya gini bakalan rame dikomentarin. Kalau mau membuktikan, coba deh agan-agan cek ke kaskus.

Di dunia perTV-an sekarang ini memang tengah marak acara-acara yang mengulas tema-tema seperti itu. Kalau saya ga salah, sepertinya hal ini dipelopori oleh acara OnTheSpot-nya Trans7. Awalnya, OnTheSpot itu bergenre musik yang sempat dibawakan oleh Talita Latif (kalo ga salah ya). Namun, pembeda acara ini dari acara musik lainnya adalah adanya selingan informasi-informasi terunik (ada 7) di antara video klip yang diputar.

Sepertinya, respon masyarakat akan kekhasan acara ini sangat baik sehingga semakin ke sini, porsi acara musiknya terus berkurang dan akhirnya dihilangkan. Acaranya pun murni hanya berisi informasi 7 hal yang ter.. versi OnTheSpot.

Sejak saat itulah sampai sekarang ini TV-TV lain berlomba menampilkan hal serupa. Tau deh apa aja nama acaranya, tapi yang pasti mirip-mirip lah.

Jujur saja, sebagai pemirsa TV saya cukup menikmati sajian informasi-informasi tersebut. Karena apa? Karena  kita jadi tahu hal-hal baru yang semula gak terpikirkan sama sekali dan jadi beruja Oowww gitu ya… Owwwhh masa sih.. atau Owwwwhh ya ampun dan su’un dan su’un. Dan itu hanya dalam hitungan setengah jam saja.

Siapa sih yang ga tau youtube, situs ini memang sudah menjadi semacam fenomena tersendiri dalam dunia perinternetan. Orang-orang di seluruh dunia pun tahu kalau Youtube itu sarangnya informasi berbasis video. Yahh istilahnya mungkin mbah gugel versi gambar bergerak.

Kalau para jurnalistik/blogger basic tulisannya kerap kali mengacu pada info-info dari mbah gugel, acara TV tersebut mengacu dari youtube.

Jadi nih ya, untuk menampilkan satu episode acara yang berbau ter ter tersebut, pihak kreatifnya gak perlu repot-repot melakukan shooting karena mostly gambar-gambar yang ditampilin yaa dari youtube. Mereka hanya perlu mencari apa-apa saja yang sesuai dengan tema yang akan ditayangkan, merangkai kalimat-kalimat cerdas dari berbagai sumber, mengopy beberapa video dari youtube sesuai keperluan serta mengompilasinya sedemikian rupa, selanjutnya mereka hanya perlu menambahkan kata-kata Courtesy of Youtube di bawah video yang ditayangkan, dan taraaaa.. Jadilah suguhan yang sangat-sangat informatif.

Menurut saya, pekerjaan semacam itu ga sulit loh. Lawong tinggal comot sana comot sini edit sana edit sini selesai. Yahhh palingan tinggal diberi sentuhan transisi berupa tulisan-tulisan, layer-layer, atau lagu-lagu yg menarik.

Nah, bagi siapapun yang senang nonton acara-acara TV emacam ini pasti familiar dong dengan istilah courtesy o YouTube.

Sebenarnya apa sih yang dimaksud Courtesy?

Kalau dari pengertian secara harfiahnya, courtesy  berarti penghormatan.

Apa mungkin maksud dari penulisan kata-kata itu berarti pihak TV memberi penghormatan pada YouTube karena menunjang suksesnya acara mereka. Tapi, kenapa gak ditampilin juga nama pemilik akun youtubenya? emang itu video ujug-ujug aja gitu ada di youtube?

Kadang-kadang saya mikir, sebenarnya etis ga sih sebuah acara yang sifatnya komersial tidak untuk kepentingan personal yang non-profit membuat cuplikan video-video orang lain dengan hanya mencantumkan “courtesy of youtube” saja?

Kira-kira ada juga gak yang iseng mempertanyakan hal di atas?

Apa itu memang sangat lumrah atau sah-sah saja karena menganggap youtube sudah menjadi semacam public domain? Ataukah karena orang-orang yang mengaplod video mereka di sana memang sudah sangat rela kalau videonya diunggah orang lain, sekalipun untuk tujuan komersil?

Mana tau ya, jangan-jangan di dalamnya malah ada unsur pelanggaran HAKI.

Hemmm.. saya jadi rada mikir, jangan-jangan saya juga melakukan hal serupa.

Saya kan termasuk sering tuh ambil foto dari gugel image untuk dipasang sebagai pemanis di tulisan blog saya ini. Tapi, saya hanya menyantumkan sumber: google image. Karena memang saya lupa sumber aslinya dari mana. Namun, sekarang-sekarang ini saya suka ngasih caption: klik gambar untuk tahu sumber foto (foto itu saya arahkan ke link tempat saya ambil foto). Tapi ya, umumnya foto-foto yang saya ambil juga seringan dari blog-blog orang yang notabene bukan sumber aseli/pemilik HAKInya.

Tapi, saya kan ga ada tujuan komersial kan ya? bukan begitu? ini sepertinya saya cari pembenaran ya? :mrgreen:

Oiya, di dunia perbukuan pun tema-tema seperti itu merupakan “kue” yang sangat lezat sehingga menjadi bagian dari tema bersifat tren yang sayang untuk dilewati. Selain tentunya bisa mengantarkan “cring cring” ke pundi-pundi keuangan mereka.

Gak usah jauh-jauh, penerbitan buku tempat saya dulu bekerja juga ikut merasakan keuntungan dari menerbitkan buku yang judulnya ter..ter..ter.

Buku tersebut biasanya nih hanya berisi kumpulan data yg sifatnya sangat-sangat base on literatur (umumnya dari internet).

Seperti halnya acara TV, buku-buku sejenis ini pun laris manis di beli orang. Dan ujung-ujungnya hampir semua penerbit minimal adalah nerbitin buku dgn tema ini. Kalau sekarang masih happening, pasti gampang banget deh nemuin buku-buku ini terpajang di rak toko-toko buku.

Padahal ya, buku ini biasanya hanya ditulis oleh tim penulis (misal: editor buku yang menjadi ghost writer) yang biasanya hanya diupah dalam bentuk insentif atau ditulis oleh penulis frilen yang sistem bayarannya hanya beli-putus.

Jadi, kebayang dong berapa keuntungan yang bisa dipetik penerbit dari tema sederhana semacam ini, apalagi kalo sampai cetul (cetak ulang), bisa berkali-kali lipat lagi untungnya.

Saya juga pernah terlibat dalam proyek penulisan buku semacam ini. Namun, sayangnya tema yang diusung sangat khusus, yakni hal-hal berbau Top10 tetapi bahasannya dipersempit, hanya ada di Indonesia.

Awalnya saya enjoy aja cari-cari literatur di sana-sini, no probs lah, masih bisa ngumpulin data dari internet. Namun, ke sini-sini ternyata informasi/data-data tentang hal-hal yang ada di Indonesia sangat minim. Biasanya, yang paling gampang dicari itu yang sifatnya mendunia.

Bingung dong tentunya?

Akhirnya susah payahlah saya membuat runutan sendiri (menurut versi saya loh) yang sumbernya saya ambil dari wikipedia atau badan statistik. Pufffff ternyata ribet juga euyyy. Tapi sayangnya, buku proyekan saya ini belum jadi diterbitkan, entah deh dasar pertimbangannya apa. Saya mah positif thingking aja barangkali trennya sudah mulai menurun jadi sengaja diskip dulu..

Loh kok ujung-ujungnya jadi curcol hehehehe :lol:

23 Responses to “Courtesy of Youtube, Etis Gak Sih?”

  1. Eldias Mahdi Sastra 12/11/2012 at 08:53 #

    Bagus banget tulisannya mbak. Suka bacanya… salam kenal ya hehehe.

  2. Jekysalim 14/09/2012 at 16:53 #

    Nyawa ja sekarang c

    • Jekysalim 14/09/2012 at 17:03 #

      Maaf salah ktik

  3. riko 24/12/2011 at 08:05 #

    saya pikir sah-sah saja download di youtube.karena sama-sama menguntungkan. kenapa saya bilang demikian karena : tv nasional banyak yang menayangkan video dg embel “cortesy of youtube” untuk mendapatkan keuntungan(syukur2 bisa menaikkan rating denga biaya produksi yang minim), orang2 ingin menampilkan videonya diyoutube juga ada dirasa ada keuntungan bagi orang tersebut (sudah banyak yang jadi artis dari youtube), dan youtube sendiri dengan banyaknya orang yang mengupload video disitusnya, maka pemasang iklan/sponsor pun tertarik untuk mengiklankan produknya di yuotube. Jadi, kalau ada yang tidak ingin videonya di download orang lain/pihak lain, yaaa…jangan diupload di youtube. Selain info entertain, banyak hal yang bisa didapatkan dari youtube, termasuk info teknologi dan pengetahuan lainnya, yang jika ditayangkan oleh tv nasional, secara tidak langsung dapat ikut membuka wawasan dan cara pikir bangsa kita. Kita bangsa yang sering terjebak pada kondisi suka membagakan diri, terlalu percaya diri, dan cenderung meremehkan orang lain. Bagi saya, UU tentang hak cipta harus direvisi. Harus bisa dibedakan mana karya cipta anak bangsa sendiri atau orang luar negeri. Kalau anak bangsa harus lebih ketat, tetapi kalau orang luar, bisa lebih longgar, supaya kita lebih maju.(UU kan tujuannya harus mengedepankan warga indonesia, dan tujuannya untuk kemajuan rakyat indonesia juga). Cina juga gitu kok, maju dengan menciplak terlebih dahulu, baru menghasilkan karya sendiri. karena, dari menciplak itu mereka bisa belajar banyak dari hasil ciplakannya untuk dapat menghasilkan produk sendiri……piss bagi yang tidak setujah dg pendapat saya…..

  4. Lyliana Thia 25/11/2011 at 16:00 #

    hmm.. mgkn yg mengupload video ke youtube harusnya udah siap dgn konsekwensi videonya jadi “hak milik” youtube ya nis?

    • zoothera 25/11/2011 at 22:46 #

      Hiya kali yaaa, janga-jangan ada term of condition yg kek gitu yaa..

  5. kakaakin 25/11/2011 at 04:07 #

    Saya lumayan suka nonton acara ginian, kalo pas lagi di depan tipi. Kalo nggak, ya saya gak nyari2😀
    Menurut saya sayang juga sih, karena tidak jelas siapa pembuat video itu. Semoga gak pada nuntut ya…
    Oiya, kira2 apakah di stasiun tv luar negri ada juga acara seperti ini ya…?

  6. monda 24/11/2011 at 15:01 #

    kalau ada nilai informasinya ya saya tonton, seperti yang hari ini bagus tuh mengenai peradaban yang hilang
    tapi kalau info cemen yang ngak penting, ditinggal aja

    • zoothera 24/11/2011 at 23:02 #

      Wahhh aku ga nonto tayangan yg hari ini bund… Emang menarik kalo pas informasinya seputar info-info baru yg unik, misalnya soal jenis2 penyakit langka, info flora fauna, atau tempat2 menarik yg sarat nilai pengetahuan/sejarahnya.

  7. nh18 24/11/2011 at 10:10 #

    Saya tidak tau hukumnya …
    HAKI dan yang sejenisnya …

    Pendapat saya adalah …
    Sepertinya ini cara pintas dari Stasiun TV untuk mencari berita …
    ini hemat biaya produksi … dan hemat tenaga …
    (sekaligus hemat … kreatifitas …)

    Sekali lagi … Etis atau tidak ? saya tidak tau

    Salam saya

    • zoothera 24/11/2011 at 13:12 #

      Iya iya Oom, ga tahu juga ga papa kok, ga dapet hukuman dari saya wehehehehe… Betul bgt tuh, bikin acara model bginian memang modalnya minimalis bgt tapi dpt iklannya kenceng bgt, yah itung2 bener2 mengamalkan prinsip dasar ekonomi, sedikit mungkin pengeluaran tapi sebesar mungkin pendapatan..😀

  8. ~Amela~ 24/11/2011 at 08:14 #

    saya juga sering lupa nyomot gambar dari mana, tapi biasanya sih saya link ke sumber gambar.. hehehe//

    • zoothera 24/11/2011 at 13:10 #

      Hahhaaha ada yg membuat pengakuan juga di sini.. Tapi seengganya kita udah nyantumin yahh, jadi secara moral kita ga nyalahin aturan, bukan bgitu bukan bukan?🙂

  9. Irfan Handi 24/11/2011 at 03:02 #

    Menurut saya sah-sah saja TV2 swasta menayangkan kembali video dari youtube. selain menghibur yang punya video bisa lebih terkenal lagi dong. he . . .
    btw, untuk Courtesy of Youtube sendiri ane juga sedikit bingung.🙄

    • zoothera 24/11/2011 at 12:59 #

      Terima kasih sahabat irfan sudah memberi kavling untuk zoothera🙂
      Semoga kita bs saling memberi safaat melalui tulisan.. Salam

    • zoothera 24/11/2011 at 13:02 #

      Sah sah.. Barakallah (emangnya di walimahan).. seharusnya sih memang ada catatan tertentu untuk perlindungan HAKInya, jadi ketauan mana yg boleh digunakan mana yg ngga

  10. Asop 24/11/2011 at 02:41 #

    Nah, saya pun juga pernah dulu berpikir seperti Mbak Anies.😐 Tapi hanya pikiran sambil lalu.

    Saya malah berpikir, apakah baiknya mencantumkan URL situs sumber mereka mengambil video2 dari youtube ya? Tapi percuma, soalnya URL youtube itu rumit…😆

    Saya malah nggak suka dengan penulisan “courtesy of yutub”. Mengapa harus pakai bahasa inggris?😡
    Mengapa tidak “sumber: youtube.com” begitu aja…😐

    Lalu, di awal atau di akhir acara, sebaiknya ada tulisan yang memberitahu penonton bahwa “semua sumber video yang kami tampilkan bisa dilihat di situs trans7.co.tv/OntheSpot” misalnya begitu, atau “semua video yang kami tampilkan di acara ini bisa dilihat di situs trans7.co.tv/OntheSpot”.

    Begini kan lebih enak, lebih menunjukkan bahwa orang Indonesia tahu diri, tahu tata cara mengutip atau meminjam dari sumber lain gitu….😐

    • zoothera 24/11/2011 at 13:08 #

      Setujahhh Asop, harusnya kredit tittlenya tetep dimasukin yaa pemilik akun youtubenya.. Ato paling ngga sblum mereka ambil jadi bagian acara TV, mereka sdh mendapat prsetujuan secara tertulis gituh..

    • Nurul 09/12/2011 at 03:38 #

      saya juga mikir gitu, kenapa yg punya video itu gak dicantumin… biar sekalian kita yg nonton bisa ng trace gitu,…

      however, saya suka On the Spot, secara jam tayangnya barengan sama berbagai sinetron ga jelas,….😀

      • zoothera 11/12/2011 at 13:27 #

        Iyaa bener daripada nonton sinetron meningan nonton acara yang bisa nambah pengetahuan yakkk..🙂

  11. bintangtimur 24/11/2011 at 01:50 #

    Saya juga lebih milih buat nonton acara On The Spot dibandingin acara-acara lain yang buat saya kesannya garing banget.
    Boleh apa nggak ya kalo TV cuman nyomot-nyomot gitu aja dari Youtube?
    Sempat kepikiran juga sih Nies, tapi belum terlalu saya dalami. Nah setelah baca posting ini, saya jad makin yakin kalo hal itu rasanya kurang etis buat para pengirim video pribadinya…wong nama Youtube aja yang dicantumin…
    Tapi, tapi…mungkin juga oirang yang ngirimin video pribadi ke Youtube udah siap dengan resko itu. Resiko ngetop tapi tanpa royalti…hehe, analisa saya ngawur kayaknya😀

    • zoothera 24/11/2011 at 13:05 #

      Aku juga suka nnton acara kek bgini karena beneran bisa nambah pengetahuan.. Nah perkara etis gak etis kembali lagi ke pihak TV yg memanfaatkan keuntungan tsb.. Haduh berat amat bahasannya kekekek

Trackbacks/Pingbacks

  1. Maraknya Program Televisi yang Berbasis Pada Tayangan di “YouTube” Tulis “YouTube”, Selesai Perkara? « muhammadtatat - 03/06/2012

    […] “Courtesy Of YouTube, etis gak sih?”, diakses dari https://zoothera.wordpress.com/2011/11/24/courtesy-of-YouTube-etis-gak-sih/ pada tanggal 2 April 2012 pukul 22.05 […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: