Cerita tentang hewan kurban dua tahun silam

6 Nov

klik gambar untuk tau darimana saya dapat foto ini🙂

Mumpung momennya pas, di hari raya kurban, di bawah ini saya mau repost cerita mengenai kali pertamanya saya dan suami meniatkan diri untuk berkurban (sumber: Notes Fesbuk saya berjudul Domba kurbanku katanya belum “kupak”)

Peristiwanya terjadi di hari raya kurban dua tahun silam.
Menurut saya, walaupun ceritanya cukup menggelikan tetapi sarat akan hikmah.

Kalo mau nyimak, yukkk lanjut turunin kursornya sampai bawah.

Di idul adha kali ini, ceritanya saya n suami ada niatan untuk berkurban. Kebetulan, gayung bersambut karena salah seorang temen punya info mengenai tempat yang menawarkan jasa penjualan hewan kurban plus bisa diantar k rumah. Singkat cerita, qta pun membeli satu ekor domba sesuai dengan kemampuan yg ada…

Rencananya, hewan kurban tsb mau dihibahin ke salah satu mushola di deket rumah bapak saya, jadinya saya minta langsung dianterin ke sana. Alhamdulillah, waktu telpon bapak hari kamis malam, domba pesanan tsb katanya udah sampai dengan selamat dan ga pake nyasar, tapi menurut info dari bapak, dombanya kok kecil amat..

Kecil? mmmmm emang sih saya blum liat dengan mata kepala langsung mengenai kondisi domba itu, tapi waktu pertama kali pesen, saya memang milih yang harganya low karena pada saat membeli saya merasa mampunya pada kisaran harga sgitu. Mengingat ini kali pertama berkurban, saya jadi ga banyak tanya2 lebih detail mengenai spec hewan kurban yang ditawarin (ukuran kgnya atau apanya), tapi saya menyadari kalo domba yang dipesen itu ukurannya memang ga gede2 amat. Cuma walaupun kecil, dombanya tetap memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai hewan kurban. Selain itu, saya jg termotivasi dengan jargon di brosur yang bilang gini “Qurban bukan diukur dari besar-kecilnya, bukan bulu, daging, atau darahnya. Tetapi kepedulaian, pengorbanan, dan keikhlasan kita dalam berbagi rizki yang Allah SWT titipkan kepada kita”…

Makanya, jadi tetap semangat dan berharap semoga tahun-tahun ke depan masih dikasih ksmpatan berkurban lagi, tentunya dengan persiapan yang lebih matang lagi biar bisa membeli hewan kurban dengan kualitas/kuantitas yang lebih baik.

Sampai selesai sholat ied kemarin pagi, saya masih belum ada feeling apa-apa kalau bakal ada suatu kejadian di jam2 berikutnya, sampai skitar jam 9an tiba-tiba saya dapet telpon dari bapak dengan hasil bincang2 spt ini:

Bapak: “anies….”

Saya: “iya, pak anies ke situnya ntar sore aja yaa…. bla bla,,,bla,,” (tanpa merasa perlu ditanya saya udah kegeeran kalau bapak nelpon itu mau mastiin kapan saya dateng ke rumah bapak)

Bapak: “ngga bapak mau kasih kabar soal kambing kurbannya, kata pihak mushola kambingnya belum ‘KUPAK’ (berarti gigi hewan belum tumbuh semua), jadi belum memenuhi persyaratan untuk dipotong”

(sampai dengan kata kupak, badan saya langsung berasa lemeesss selemess-lemesnyahhh karena berarti saya sdg berada dlm sbuah masalah)

Saya: “trus jadinya gimana pak” (dengan suara berusaha di buat sedatar mungkin)

Bapak: “ya gimana???” (lah,, pigimanah si bapak, ditanya malah balik nanya diah)

Saya: “mmmm yaudah deh, anies coba telpon temen anies dulu, smoga bisa dituker”

Bapak: “iya, dituker aja kalo bisa trus ntar kabarin bapak lagi..

Slesai telpon dari bapak saya tutup, saya critain ke suami mengenai dikembalikannya domba yang dititipin ke bapak dan nyeritain mengenai keresahan saya pagi itu, tapi bukannya bantu menenangkan, yang ada dianya malah menghujani saya dengan tawa ngakaknya sambil nutup2in muka dan itu menandakan kalo dia sedang menutupi rasa maluu… haiahhhh,,, tawamu itu bukan solusi yang aku harapkan suamikuh….

Sambil tetap membiarkan sang suami tertawa malu, dengan sigap saya nelpon temen yg membantu pembelian domba, tapi celakanya dia lg ada di Bandung jadinya ga bisa terjun langsung membantu klarifikasi ke pihak penjual.

Cuma, sebagai seorang teman yang baik dia bersedia menghubungi pihak penjual untuk nanyain masalah ini… duhhh manah faktur pembeliannya saya tinggal di kantor lagih dodolll bener dahhhh ahhh (dan lagi-lagi temen saya mau bantuin ngecekin nomor fakturnya..maapkeuunnn daku yaaa jadi merepotkan bginih..). Tapi, temen saya menegaskan bahwa pihak penjual tidak akan menjual hewan kurban yang tidak sesuai syariat… karena hewan kurbannya memang diternakin sendiri dan sudah memiliki lisensi dari dinas yang terkait dengan pemotongan hewan kurban, lagipula mereka sudah bertahun-tahun berkecimpung/menjual hewan kurban dan slama itu blum pernah ada komplain dr pembeli, baru tumben katanya….

Beberapa menit kemudian, salah seorang dari pihak penjual nelpon dan saya pun ngutarain keluhan saya dan menanyakan penyelesaiannya seperti apa. Menurut beliau, sah tidaknya seekor kambing/domba untuk dijadikan sbg hewan kurban itu tidak hanya dilihat dari kupak tidaknya, tetapi juga dilihat dari umurnya, kalau kambing/domba umur 1 tahun sudah boleh dijadikan kurban. Nah, domba yg saya beli sdh memenuhi syarat umur tsb walaupun mungkin belum kupak. Jawaban tsb memang bisa bikin saya cooling down utk sementara waktu, lagipula katanya mereka berusaha untuk nuker dombanya…

Gak lama dari itu, saya dapet kabar kalau ternyata stock hewan kurbannya sudah habis jadinya mereka tidak bisa menukarnya dan hanya menawarkan tiga opsi ke saya.

Opsi pertama: Mereka akan datang ke rumah bapak dan mengirim salah satu orangnya yg bisa memotong hewan kurban, kemudian akan memotongnya langsung di rumah bapak.

Opsi kedua: Dombanya dibawa ke farm mereka dan dipotong di sana kemudian akan dibantu untuk disalurkan kepada yang berhak.

Opsi ketiga: Saya boleh meminta uang kembali

Mengenai opsi pertama, bapak saya kurang setuju karena dia masih meyakini domba tsb belum layak untuk dijadikan hewan kurban secara dia percaya betul dengan penilaian pihak mushola yang menurut bapak sudah malang melintang puluhan tahun memotong hewan kurban, jadi sudah tidak diragukan lagi keahliannya dalam menilai kelayakan hewan kurban..

hmm…. gimana yaaa saya semacam berada pada dua kultur yang berbeda, di satu sisi bapak saya bersikukuh dengan keyakinannya, tapi di satu sisi saya cukup kredibel dengan penjual hewan kurban tempat beli domba tsb karena saya yakin mereka pasti memiliki landasan teori yang kuat untuk menjualnya. Duhh kesian amat nasib domba saya, sblum dikurbankan sepertinya udah menjadi kurban beneran karena nasibnya terombang-ambing bgitu…

Akhirnya, setelah menenangkan bapak yang sedikit merasa kurang nyaman dengan kejadian ini, saya dan suami memilih opsi kedua dengan satu alasan, tetap ingin meluruskan niat untuk berbagi di hari raya idul adha ini….

Asli, sebenernya saya masih menyimpan rasa sedih mengenai kendala kemarin itu, cuma untungnya suami bisa membesarkan hati saya kalau semua ini balik lagi pada kita, toh tujuannya kita cuma ingin berbagi, perkara di tengah jalan ada kendala itu semuanya kehendak dari Allah.

Temen saya yang merasa bertanggung jawab sama kejadian ini pun ga berhenti2 sms untuk ngasih motivasi supaya saya ga kapok untuk berkurban lagi dan tetap harus yakin bahwa insyaAllah tetap mendapatkan syafaatnya… aminnn..wallahualam

PESAN MORAL”

Untuk besok-besok kalau mau berkurban sebaiknya pilih yang terbaik. Berdasarkan dari hasil browsing saya dapet sedikit ilmu ini

Yang paling utama dari hewan yang akan dikurbankan adalah yang memenuhi sifat-sifat sempurna dan bagus dalam binatang ternak. Hal ini sudah dikenal oleh ahli yang berpengalaman dalam bidangnya. Di antaranya.

  • Gemuk
  • Dagingnya banyak
  • Bentuk fisiknya sempurna
  • Bentuknya bagus

[dalam artian hewan kurban dengan kriteria di atas tentu bukan berharga minimalis:mrgreen: ]
Semoga bermanfaat…

Eniwey, walaupun tahun ini saya dan suami sedang tidak berejeki untuk berkurban, saya tetap mau ngucapin Selamat Hari Raya Idul Adha Ulntuk Semua yang Baca Tulisan ini.

Semoga hewan kurbannya sudah kupak yaaaakkkk😳

13 Responses to “Cerita tentang hewan kurban dua tahun silam”

  1. tunsa 08/11/2011 at 02:15 #

    alhamdulillah.. hewan kurban telah mencapai batasan umur minimal yang ditetapkan syari’at. Jika kambing jenis domba, maka telah mencapai usia setengah tahun. Jika kambing kacang/jawa (ma’iz) telah genap berumur setahun, sedangkan sapi telah genap berumur dua tahun, dan unta telah genap berumur lima tahun. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam: “Janganlah kalian menyembelih hewan kurban, kecuali bila hewan tersebut telah mencapai usia musinnah (unta berumur lima tahun, sapi berumur dua tahun, kambing berumur satu tahun). Namun jika kalian kesulitan, maka silahkan menyembelih domba yang telah berumur enam bulan (jadza’ah).”

    • zoothera 08/11/2011 at 03:23 #

      Makasihhh bangeuthh untuk info tambahannya yaaakksss…😉

  2. akhmad fauzi 08/11/2011 at 00:40 #

    Kunjungan pagi, salam kenal

    • zoothera 08/11/2011 at 00:44 #

      salam kenal jugahhh dan semangka, semangath kaka

  3. Outbound Malang 08/11/2011 at 00:39 #

    met hari raya idul adha ya..salam suukses.

    • zoothera 08/11/2011 at 00:48 #

      Met hari raya idul adha.. met bermbeee ria😀

  4. Lyliana Thia 07/11/2011 at 20:01 #

    Niiis, tumben pake moderasiii…?

    ohyaa… maapkeeeun baru mampir nis… skrg kegiatan blogwalking agak tersendat,.. hiks hiks…

    • zoothera 08/11/2011 at 01:38 #

      Ahahhaahahaa.. iya ly, biar gaya ajahhh kekekeke, ngga deng biar gw bisa nyaring2 aja komen2 yg masuk..
      btw daging dumba kalo menurut gw lebih soft dagingnya, dulu ada tuh rm daging domba fav di jl ampera namanya resto Dombrut (dombaGarut).. tapi sayangnya skarang udah tutup 😦
      Insya Allah yaa tahun depan bisa ikutan kurban lagi.. amin

  5. Lyliana Thia 07/11/2011 at 19:58 #

    nis, daging domba lebih enak ya? belom pernah coba..

    aku belom pernah ngalamin kejadian begitu sih Nis, krn aku jg nggak pernah liat langsung, percayain saja sama yang kami kasih amanah.. hehe.. soalnya biasanya berkurban di tempat2 yg jauh…

    yg penting kan niatnya ya Nis.. semoga tahun depan bisa kurban lg, amin…😉

  6. faizalramadhan 07/11/2011 at 14:41 #

    Yap, dan tidak boleh cacat atau mengalami luka di tubuhnya. Saya juga pernah membaca bahwa hewan kurban bisa stress yang mengakibatkan daging kurban kurang bagus. Stress itu disebabkan karena kurang terawat beberapa hari atau sehari sebelum dikurban juga bisa karena si hewan kurban ‘melihat’ si temannya yang lain saat dikurban jadi dianya stress. Biasakan kita lihat hewan kurban lari, ya salahsatunya karena itu lihat temannya yg lain bersimbah darah. *bahasanya*. hahaha.

    Anyway, selamat Idul Adha, selamat utk program penaiakn berat badan.

    Salam.🙂

    *Makassar Tidak Kasar*

    • zoothera 08/11/2011 at 01:43 #

      IYa tuh, kemaren sempet liat di tipi ada sapi stress n ngamuk karena seblom dipotong kepalanya ditutup… ga tega banget ngeliatnya.
      Makanya ada adab memperlakukan hewan kurban deh kayanya.. salah satunya ya itu merawat dan memperlakukannya dengan bersahaja *bahasanya…* eheheheh
      eniwey met idul adha jugah

  7. Asop 07/11/2011 at 04:53 #

    Ngomong2… rasa daging domba itu kayak apa ya?❓

    • zoothera 07/11/2011 at 08:01 #

      mirip-mirip daging kambing, tapi kalo kata saya lebih lembut aja dagingnya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: