Intra Uterine Insemination (IUI)/Inseminasi –> our last ikhtiar

28 Oct

Diambil dari google image

Dialog di bawah ini merupakan copas-an dari BBM saya (S) dan salah satu sobat laki-laki saya (T) menyoal program inseminasi yang belum lama saya lakonin.

T: “Jadi, ngumpul-ngumpulnya kapan?”

S: “Kapann yaaa? gw lagi istirahat dulu nih 3 minggu ini, selasa kemarin abis inseminasi”

T: “Haha kek sapi ajah inseminasi”

*sighhhh mentang-mentang mantan editor yang biasa ngedit buku peternakan*

S: *Ikon BT* “Namanya juga usaha, tapi doain yaaa program yang ini jodoh”

T: “Amiinn, kembar biar cepet”

*Sampai dialog ini, saya masih ngerasa kalau sobat saya itu bener-bener ngerti kalau yang saya omongin itu seriusan*

S: “Amiin, sekarang ini tinggal kuat-kuatan doa aja :)”

T: “Kok? mesti usaha juga kaleee, inseminasi gimana sih?”

*Jiyaahhhh gubrak dah kirain udah paham nih orang, pentung nih!*

S: “Lahh lo gimana sih, ini inseminasi beneran, satu tingkatan di bawah bayi tabung”  *mulai sewot*

T: “??? maksudnya bukan secara alami nis? beneran diinseminasi?”

S: “iya, cuma yang ngebedain sama bayi tabung itu, di inseminasi proses pembuahannya tetep di dalam rahim gw.. Sperma suami gw dicuci dan diseleksi dulu untuk dipilih yang paling bagus”

T: “Owww sperma suami lo ditampung, lalu diinseminasikan ke rahim lo, gitu ya? I see.. emang kapan inseminasinya?”

*ettt dahh kagak nyimak diahh*

S: “Selasa kemaren”

T: “Trus jadi engganya baru ketauan 3 minggu lagi?”

S: “Betoolllhhhhhh, karena kata dokter peluangnya keberhasilan insem cuma 20%, makanya skrg gw optimalin istirahat n banyakin doaa getohhhh”

T: “Semoga jadi ya nies”

S:  “Amin”

Dari dialog di atas, pasti udah kebaca dong yaa skarang saya mau cerita tentang apa?

yaaa… soal inseminasi.Emmm… enaknya mulai dari mana ya ceritanya? bingung saiyah..:mrgreen:

Gini aja deh, saya ceritain sdikit riwayat saya seputar mendapatkan momongan.

Program kehamilan pertama

Saya dan suami mulai pertama kali serius untuk ikut program ke dokter kandungan kira-kira akhir tahun 2008 (memasuki tahun kedua pernikahan). Waktu itu saya program di RS Mitra Jatinegara dengan dr Julianto Witjaksono (atas rekomendasi  bapak mertua). Dari program ini akhirnya ketauan kalau rahim saya termasuk tipe yang retrofleksi, waktu dengar istilah itu saya langsung khawatir, tapi setelah dijelasin kalau bentuk rahim tsb ga akan mempengaruhi peluang untuk bisa hamil. Dari hasil berbagai pemeriksaan saya dan suami  dr Wit menyimpulkan kalau kami sebenarnya tidak memiliki masalah berarti dalam sistem reproduksi kami, beliau bilang yaa tinggal nunggu dikasih saja.😀

Selang beberapa bulan program, setelah melakukan serentetan pemeriksaan (pemeriksakan kualitas sperma suami, pemeriksaan darah/hormon, HSG, minum vitamin, dll),  akhirnya di bulan Maret 2009 saya merasakan yang namanya hamil. Ya, saya akhirnya bisa tau gimana senengnya begitu liat tespek membentuk garis (+) dan saya akhirnya tau gimana dagdigdugnya waktu ngasih liat itu tespek ke suami tercinta. Yaa.. saya akhirnya bisa tau gimana senangnya bisa hamil.

Tapi, ternyata Allah berkehendak lain, persis di waktu kontrol dokter berikutnya (April 2009), saya mengalami flek yang berujung pada  keguguran spontan 2 pekan ke depannya😥

Setelah melihat hasil pemeriksaan ACA dan TORCH saya yang baik-baik saja, dr Wit menyimpulkan kalau kasus keguguran saya murni karena blighted ovum alias janin tidak berkembang yang mungkin disebabkan karena kurang baiknya kondisi kromosom janin yang mau tidak mau pasti akan gugur.

Sejak itu, kami pun berhenti dari yang namanya datang ke dokter kandungan, ya kurang lebih hampir 9 bulan. Dan selama itu pula saya masih rutin didatangi oleh tamu bulanan.

Program kehamilan kedua

Awal Januari 2010 atau persisnya selang 4 hari setelah ultah pernikahan ketiga, saya dan suami memutuskan untuk kembali program ke dokter kandungan. Kali ini kami pindah dokter. Bukan karena saya tidak cocok dengan dr Wit, tapi salah satunya karena RS Mitra Jatinegara terlalu jauh dan jadwal praktiknya hanya hari biasa.

Saya pun beralih ke dr Budi Wiweko. Seperti halnya dr Wit, pemilihan dr Budi Wiweko juga atas rekomendasi Bapak Mertua saya yang kebetulan memang seorang dokter. Ada banyak alasan yang membuat saya dan suami langsung setuju program ke dr Budi, yaitu:

  • Tempat praktiknya sangat fleksibel karena beliau praktik di dua tempat yang bisa dengan mudah dijangkau, yang pertama di RS Bunda Margonda (update: sekarang sepertinya sdh ngga lagi) yang notabene hanya sekedipan mata dari rumah saya dan yang kedua di RSPI yang memang ga jauh.
  • Jadwal praktiknya yang di RSPI itu hari Sabtu jadinya bisa ditemenin suami dongg.

Untuk mempermudah pemeriksaan, saya pun membawa arsip riwayat medikal saya sejak pertama kali program kehamilan. Seperti halnya dr Wit, dr Budi juga bilang kalau kondisi reproduksi saya dan suami tidak ada masalah. Namun, saya kembali diminta untuk periksa lab u/ ngecek hormonal saya lg. Kira-kira 3 kali saya datang ke dr Budi Wiweko dan di pertemuan ke-3 dr Budi sempet menyinggung masalah inseminasi.. Inseminasi ya? hmmmm saya dan suami sepertinya belum berpikir sampai sejauh itu, kami masih percaya diri kalau masih mungkin diberi momongan dengan jalan yang alami.

Akhirnya, kami pun berhenti lagi dari kegiatan program kehamilan… yaaa kami memang sudah mengalami yang namanya fase naik-turun semangat dalam urusan momongan. Tapi syukurnya, kami menyikapinya dengan santai dan terus bersabar menanti keajaiban dari Allah.

Program kehamilan ketiga

Setelah disinggung beberapa kali oleh mertua yang merasa sedikit “gerah” melihat kesantaian saya dan suami, akhirnya Desember 2010 kami memulai kembali berikhtiar untuk program ke dokter kandungan.

Kali ini, saya pindah ke dr Oni Khonsa di RSIA Tambak, Manggarai. Kenapa ke dr Oni? karena pertama, saya mendapat rekomendasi dari seorang teman yang bilang kalau dr Oni memang berpengalaman menangani pasien yang lama tidak memiliki momongan dan banyak yang berhasil. Kedua, setelah kroscek via internet, ternyata byk komen brnada positif ttg dr Oni yg membuat saya punya cukup keyakinan untuk mencoba ke sana. Persis di penghunjung tahun 2010 (malam tahun baru), saya dan suami memulai petualangan di RSIA Tambak.

Pengalaman pertama menjadi pasien dr Oni? Tobaaaatttthhhhhhhhhhhh antriannya lamaaa banget, pasiennya banyak, dan ditambah pelayanan RSIA Tambak yang kurang comfy (khususnya dalam hal sistem antrian, pokonya mumet banget dah). Ga seperti RS Mitra atau RSPI atau RS Bunda, bookingan via telp ternyata ga berlaku sebagai nomor antrian, maksudnya bukingan telpon hanya untuk membatasi jumlah pasien. Sementara itu, untuk dapat nomor antrian, kita disuruh dateng jam 2 siang (padahal dr Oni baru praktik abis magrib) dan ini pun modelnya rebutan, siapa yang lebih cepat liat pembagian antrian lebih dulu, dia lah yang dapat nomor antrian lebih awal . Secara jarak rumah dengan RSIA Tambak jauhnya banget, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk nunggu aja gitu di sana.. saya lupa dapat nomor antrian berapa.. yang lebih bikin males ya itu, daerah sekitar RS ga ada tempat semacam mall atau rumah makan yang asik untuk dijadiin tempat nunggu. Walhasil, kami pun nunggu mulai dari jam 2 sampai……… Astaghfirullah sampai jam stg 10 malam, nama saya belom dipanggil-panggil juga.. mana hari itu adalah hari pertama saya haid pula di mana kondisi perut yang kram bikin saya semakin emosional.. jujur saya sampai nangis karena ga tahan nunggu kelamaan.. hingga akhirnya nama saya dipanggil *saya lupa jam berapa tapi yang pasti kayanya lbh dari jam 10*  Untungnya dr Oni termasuk dr yang enak untuk diajak diskusi, baik orangnya, dan cukup jelas ngasih konsultasinya.

Beneran deh, itu adalah malam tahun baru terburuk yg prnah saya laluin.. Karena ga seperti malam thn baru sebelum2nya, ga ada acara brbque atau tiup2 terompet. Yang ada bgitu sampai rumah saya cuma ngeringkuk di kasur nahan pusing akibat kram perut dan emosi yg masih blom reda.. *sigghhhhh*

Karena udah kadung meniatkan diri program di dr Oni, akhirnya saya kuat-kuatin bolak-balik RSIA Tambak dan siap dengan kegalauan mengantri panjang yang  sangat membosankan. Di kedatangan kedua, alhamdulillah saya dapat nomor antrian ke-2 dan persis ketika suami saya datang (jam stg 7), nama saya langsung dipanggil masuk. Tapi di pertemuan berikutnya, jadwal praktik dr Oni berubah jadi jam 4 sore sampai jam 7 dan itu berarti harapan tipis untuk saya bisa ditemani suami karena suami susah untuk bisa ijin pulang cepat..😥

Dari hasil pertemuan ketiga, saya disarankan untuk hidrotubasi untuk pertemuan berikutnya. Seperti halnya sebelum-sebelumnya, saya booking konfirmasi via telp dan saya kasi tau kalau saya ada dijadwalkan untuk hidrotubasi. Di pertemuan ke-4, tanpa ada perasaan ga enak atau apa, saya datang dan langsung bilang ke bagian pemeriksaan kalau saya mau hidrotubasi dan dengan polosnya suster yang saya tanya bilang gini “wah ga bisa mendadak bu kalau hidrotubasi, karena harus disiapkan dari 1 hari sebelumnya bla bla bla…” apaahhh??? bukannya saya udah telpon kemarin dan tidak ada penjelasan mengenai harus ini harus itu… emosi banget saya waktu itu, ditambah karena datangnya telat stg jam dari jam pengambilan nomor, saya dapat antrian nomor yang agak jauh.. dan menurut susternya saya sebaiknya konsultasi aja dulu dan reschedule untuk hidrotubasinya.. lahhh apa bedanya dong sama kedatangan yang sebelumnya kalo cuma konsultasi doang.. dannn yg semakin bikin emosi, ternyata hari itu dr Oni praktiknya tetap baru mulai abis magrib karena harus nanganin orang yang melahirkan.. dan itu berarti antrian saya pun semakin molorr… maka begitu suami saya datang, saya berdiskusi mengenai kemungkinan ga jadi hidrotubasi dan suami saya memutuskan untuk pulang dan tidak melanjutkan antrian… lelah hati dan batin saya hari itu… Malam itu dan keesokan harinya, pihak RSIA Tambak beberapa kali telpon ke HP saya dan dengan penuh rasa sebal tidak ada satupun yang saya angkat.

Dan berakhir sudah program kehamilan kami di dr Oni Khonsa….. dengan kesimpulan bukan karena saya tidak cocok dengan dokternya, tetapi saya kapok dengan sistem antrian pasien dan penanganan suster2 di RSIA Tambak… tobaatttttt deh ah…

Program kehamilan keempat

Sejak kasus program di RSIA Tambak yang berakhir pada rasa kapok, saya dan suami pun berhenti lagi dari kegiatan program. Saya pun ambil kesibukan dengan belajar di PGTK Tadika Puri.

Namun, semakin ke sini Ibu mertua saya mulai intens menyentil kami dengan perkataan “kamu kapan mau mulai ke dokter lagi? jangan terlalu santai, umur kamu kan terus nambah… bla bla bla….”  saya dan suami pun kembali memikirkan mengenai program kehamilan.

Berdasarkan pertimbangan yang matang, akhirnya saya dan suami memilih untuk kembali ke dr Budi Wiweko dengan keputusan melakukan inseminasi sebagai upaya ikhtiar terakhir kami. Mulailah kami menyisihkan pundi-pundi tabungan demi meluluskan program kali ini.

Akhirnya, awal Oktober kemarin saya mulai kembali konsultasi ke dr Budi Wiweko di RSPI dan di siklus haid hari ke-2 bulan Oktober saya diminta datang lagi. Karena jatuhnya pas tgl 10 Oktober kemarin dan itu adalah hari biasa, saya diminta datang ke Klinik Yasmin Kencana RSCM, tempat praktik dr Budi sehari-harinya. Tadinya dalam bayangan saya klinik Yasmin RSCM itu akan menyeramkan seperti halnya RSCM, tapi ternyata pikiran saya salahhh besar, tempatnya bagus, sistem antrian (baik telepon dan registrasinya) sangat profesional, dan yang terpenting tempat nunggunya sangat-sangat nyaman.

Jam 2 siang, saya nunggu suami di lobi Klinik Yasmin, ya suami saya ijin setengah hari kerja.

Walaupun dapat nomor antrian yang jauh, tapi hati saya ga senewen nunggunya karena memang tempatnya enak untuk nunggu. Hari itu, saya di USG untuk melihat perkembangan cikal bakal sel telur. Setelah dirasa kondisi sel telur saya OK, tanpa disangka ternyata dr Budi langsung menjadwalkan inseminasi di pertemuan berikutnya.. dan jatuhlah pilihan di tgl 24 Oktober 2011.

Semula, saya tidak menyangka akan langsung dijadwalkan untuk inseminasi. Bayangan saya paling masih 3 bulan ke depan. Hmmmm saya jadi sempet kepikiran sama urusan PKL PGTK saya yang sebenarnya harus saya ambil setidaknya sampai akhir November. Tapi demi memprioritaskan program inseminasi ini, akhirnya saya terpaksa tidak dulu memikirkan urusan PKL…

Sejak tgl 10 Oktober, saya diresepin obat injeksi untuk membesarkan sel telur selama 11 hari (sd tgl 21). Suntikan yang pertama saya dibantu oleh suster di Klinik Yasmin, tapi untuk 10 suntikan selanjutnya saya harus menyuntik sendiri di rumah:mrgreen:

Atribut suntikan untuk self-injection

Gaya saya saat menakar dosis ampul puregon yang harus disuntikin ke perut

Akhirnya, jadilah terhitung tgl 11-21 okt saya memberanikan diri untuk menyuntikan Puregon ke area perut saya.. sebenarnya saya bisa minta bantuan suami, tapi demi melihat dia ketakutan (sampai kebawa mimpi malahan katanya) saya ga jadi minta tolong dia. Suami akhirnya hanya support saya dengan tidak pernah lupa mengingatkan saya (via telp atau BBM) bila sudah waktunya saya untuk suntik. Ada kejadian lucu dengan urusan suntik-menyuntik ini, waktu itu hari Sabtu (15 Oktober) saya dan suami janjian dengan teman untuk jalan-jalan ke Senayan City, karena jadwal nyuntiknya kemungkinan pas saya lagi di Mall maka saya pun membekali peralatan suntik saya ke dalam tas.. dan taraaaaa saya pun nyuntik di dalam toilet.. hahaha untung aja toiletnya bersih.. tapi walau bagaimana ada perasaan kurang nyaman dan bikin saya jadi terburu-buru, efeknya agak sedikit mengeluarkan darah deh di  bekas suntikannya…

Tgl 22 Oktober seharusnya saya datang ke dr Budi untuk melihat perkembangan sel telur pascapenyuntikan, tapi eng ing eng hari tgl 21 okt Klinik Yasmin nelp ngasih tau kalau dr Budinya Cuti aja gitu sampe tgl 24 Okt.. Aigoooooo… yaampun yampun gimana inih, bukannya tgl 24 jadwalnya saya harus inseminasi? tanpa pikir panjang saya sms dr Budi, nanyain mengenai kebingungan saya.. trus dr Budi dengan santai jawab, Hari Selasa aja tgl 25 Okt.. truss truss saya sms lagi nanyai perlu ngganya konsultasi dulu seblum insem.. beliau jawab ga usah langsung ajah hari Selasa.. baiklah kalau begitu.

Suami pun mengubah jadwal cutinya dari tgl 24 menjadi tgl 25 Okt.

Jadilah, hari Selasa tgl 25 Oktober 2011 menjadi hari bersejarah saya dan suami. Kami agak sedikit nervous sebenarnya.. tapi bismillah kami harus melalui ini.

Berangkat dari Depok jam setengah 7 pagi.. dan astagahhhhhh macettthhhhh dan baru sampai Yasmin jam 9.. padahal kami harus sampai Klinik Yasmin jam 8 sampai stg 9.

Setelah registrasi ulang, kami naik ke lt 4 dan menanyakan kapan giliran kami. Sebenarnya pagi itu, jadwalnya hanya untuk pengeluaran sperma suami aja untuk selanjutnya dicuci dan diseleksi. Proses inseminasinya sendiri baru bisa dilakukan 2-3 jam setelahnya. Saat itu, ada sekitar 3 pasang (termasuk saya dan suami) yang berniat inseminasi. Dan jadilah, kami antri untuk masuk ke dalam ruangan yang bisa dibilang lebih mirip dgn kamar hotel.. untuk selanjutnya gimana-gimananya gak bisa saya ceritakan di sini yaa karena saya tidak yakin akan lolos sensor (17 plus plus soalnya) hahahaha..

Setelah makan siang di rumah makan seberang klinik, saya dan suami memilih untuk nunggu aja sambil ngadem di dalam klinik Yasmin… dan seperti antrian sebelumnya, saya mendapat giliran ke-3 untuk inseminasi dan itu berarti saya harus menambah sekitar 3 jam ke depan lagi.. untungnya saya bawa ipad jadi bisa ganti-gantian dengan suami membunuh waktu dengan bermain game fav kami.

Jam 3 sore, nama saya pun dipanggil.. ruangan inseminasi berada persis di sebelah “kamar hotel” tempat suami saya mengeluarkan sperma. Seperti yang saya liat dalam opening film “The Back-Up Plan”, di dalam ruangan inseminasi ada kursi yang biasa digunakan untuk melahirkan dan saya pun diminta untuk naik ke kursi tsb. Sebenarnya, saya agak grogi dan sedikit takut, tapi karena suami boleh nemenin saya jadi lumayan tenang.

Begitu dr Budi masuk, terjadi percakapan yang lucu adanya.

Dr B: “Gimana, kemarin udah di USG ya?”

S: “Kan ketemu dokter langsung hari ini dok..seharusnya sih hari Sabtu kemarin.. tapi kan dokter cuti”

Dr B: “Ogitu ya, jadi belum disuntik untuk mecahin sel telurnya? kalau bgitu nanti disuntik ya”

S: “Iya dok..”

*Lahhh pijimane dokter, doi lupeeee kalo dia yang nyuruh langsung n ga perlu kontrol sebelum insem🙄 *

Selanjutnya hanya dalam hitungan menit, proses inseminasi pun selesai… kursi tempat sandaran kepala saya diturunkan sehingga posisi kaki berada agak lebih tinggi (seperti mengangkat kaki ke tembok)..setelah memberi instruksi + sedikit wejangan pada saya-suami, dan memberi resep (Duphaston**), dr Budi pun kembali ke ruangan praktiknya. Selama 30 menit saya diminta untuk relaks.. jam setengah 4 suster datang kemudian menyuntik saya dengan obat pemecah sel telur (Pregnyl). Setelah bayar-bayar , saya dan suami pun pulang untuk selanjutnya menunggu sampai 3 pekan ke depan, jadwalnya kontrol ke dr Budi.

Sebenarnya, dr Budi tidak mengharuskan saya untuk istirahat atau tidak melakukan banyak beraktivitas, tapi orang-orang terdekat saya (suami, orang tua, dan sahabat2) menganjurkan untuk istirahat.

Akhirnya, here I am, selama 3 minggu ke depan dianjurkan untuk banyak istirahat.

Selama masa istirahat ini, kegiatan yang saya lalui hanya seputaran kamar tidur, dapur, dan ruang TV. Ya, praktis saya lbh banyak tiduran, nonton DVD, makan (dibeliin suami karena saya tidak boleh masak), sholat, mandi, meditasi sendiri, perbanyak doa, dan satu lagi ya ini blogging😆

Yang bikin saya senang selama masa istirahat ini adalah perhatian suami yang jadi dobel dan ibu mertua saya hampir setiap hari bbmin saya untuk sekadar nanya, gimana kabarnya hari ini….🙂

Sebenarnya bosan sih, terlebih batuk gatal yang terkutuk mendera tenggorokan (beneran ngga tau diri banget sihhhh nih batuk, datengnya pas orang lagi membutuhkan kondisi fit, smoga aja ga mempengaruhi). Tapi kali ini saya coba ikhlasin demi mengoptimalkan ikhtiar kami… semoga program inseminasi ini bisa membuahkan hasil yang membahagiakan.. tapi apa pun itu, kami serahkan pada Allah, semoga Allah membukakan pintu Rahman-Rahimnya kepada saya dan suami.. amin amin amiinn… mohon bantuan doanya yaaa temanssss…. :hug:

Catatan

Barangkali ada yang mau tau perkiraan biaya yang saya keluarkan untuk melakukan program inseminasi di atas, berikut hitung-hitungannya:

  • Konsultasi + USG  tgl 1 Oktober 2011 –> Rp352.000
  • Periksa lab hormon progesteron –> Rp190.000
  •  Konsultasi + USG + Puregon untuk self injection (11 x  sekitar 450,000) –> Rp5.342.300
  • Washing sperma (harus dibayar cash karena kerja sama dgn Makmal-UI) –> Rp 1.600.000
  • Inseminasi + Pregnyl + Duphaston  –> Rp2.501.000
  • Total sekitar Rp9.985.000

** Saya diresepin Duphaston untuk menguatkan kandungan karena saya pernah ada riwayat keguguran.

23 Responses to “Intra Uterine Insemination (IUI)/Inseminasi –> our last ikhtiar”

  1. lysa 18/07/2014 at 08:12 #

    Ass mbak, klo boleh tau inseminasinya berhasil gak? Soalx aku juga lagi rencanain buat inseminasi

    • zoothera 18/07/2014 at 11:16 #

      Wassalamualaikum..
      Wkt itu saya ga berhasil inseminasinya karena trnyata stlah hasil observasi pascainseminasi ditemuin mikropolip di dinding rahim saya. Jadi setelahnya saya dibersihin dulu melalui kuret dan terapi pil Kb. Alhamdulillah ga lama dr situ saya hamil secara alamai.

      Semangat yaaa, smoga brhasil inseminasinya

    • zoothera 11/10/2014 at 18:26 #

      Wassalamu’alaikum Iysa
      Maafkeunn baru sempat buka blog lagi dan baru bs jawab komennya sekarang *udah basi ya?* 😭

      Soal cerita inseminasi berhasil tidaknya, saya sudah posting di tulisan berikutnya. Ya, kami gagal inseminasi.
      Omongomong dirimu gimana hasil inseminasinya? Semoga sukses ya dan sekarang sedang berbadan dua atau menantika kelahiran si jabang bayi, aamiin ya Allah 🙏

  2. vari sapi lucu 16/04/2013 at 15:32 #

    Hello, salam kenal ya,
    Terdampar disini karena lagi browse soal insem di yasmin, kebetulan jadwal saya besok nih dgn dr Budi wiweko juga. Kayaknya biayanya agak beda ya mungkin karena dgn puregon lebih mahal, saya kmrn diresepkan femara.
    Sekarang lg program dimana? Atau udah sukses?. Anyway, thank u for sharing ya…
    http://ourbabycow.blogspot.com

  3. abuibrohim8 31/01/2013 at 14:56 #

    hadew ada suntikan…..

  4. baju muslimah bandung 18/11/2012 at 22:13 #

    Tidak ada kesia-sian sebatas kita terus berdoa dan beriktiar, semangat saja..salam kenal

  5. Mama Rani 11/01/2012 at 17:05 #

    Subhanallah..benar-benar ikhtiar yang panjang ya,mbak.
    Insya Allah selalu ada jalan keluar dariNya.
    Semoga diberikan yang terbaik sama Allah ya mbak🙂

    Semangat mbak.
    Banyak2 berdoa😉

  6. Susan Noerina 16/12/2011 at 23:16 #

    Jeng, ekye baru baca yang ini. Insya Allah, apapun yang terjadi pasti Allah akan memberikan yang terbaik. Dan ga ada yang namanya nihil dari setiap usah maksimal yang dilakukan🙂

    teteup semangath yah Cyiiinnn🙂

    • zoothera 18/12/2011 at 13:48 #

      Amiiinnn…. makasi yaa jeung Soes untuk support n doanya… insya Allah selalu semangath.. *peyukkk*

  7. Gita 08/11/2011 at 05:31 #

    wahh mba anis ternyata sudah sampai inseminasi yah…nanti hasilnya gmn posting2 donk kalo boleh, pengen tau lanjutannya gmn…
    aku blm program apa2 lagi nih sejak blighted ovum kemarin…nunggu sampe akhir tahun deh baru mau ke dokter lagi…huhuhu..
    semoga kali ini berhasil yah usahanya… Aaminn😀

    • zoothera 08/11/2011 at 06:35 #

      Insya Allah besok atau lusa aku postingin yaa… amiin doanya😉

  8. Lyliana Thia 07/11/2011 at 20:35 #

    Aniiis… begitu panjang dan berliku ikhtiarnya ya… self injection… duh, aku aja nggak kebayang deh ngelakuin itu sendirian…

    dan ternyata biaya inseminasi segitu mahalnya…

    Niss… 3 minggu dari 25 oktober ya? berarti… *ngitung* sekitar tgl 17 november insya Allah tau kabarnya… sementara lo nggak boleh kemana2 ya..? take care ya Nis… semoga yg kali ini berhasil… my best wishes for you….

    • zoothera 08/11/2011 at 01:47 #

      amiiinnnn ya Allah.. makasih dear Lyli *peluk*

  9. bintangtimur 02/11/2011 at 03:49 #

    Aniez, dengan tulus saya ikut mendoakan semoga ikhtiar ini diijabah oleh Allah Swt. Amin.
    Jadi bisa ngebayangin gimana susahnya proses inseminasi itu, ada kesabaran yang tidak terbatas, harus ada juga ikhtiar yang nggak setengah-setengah…bismillah, smoga semua dimudahkan Allah…

    • zoothera 02/11/2011 at 04:33 #

      Trimakasih banyak Mba Irma, semoga saya bisa ikhlas seikhlas-ikhlasnya menerima apa pun jawaban dari Allah bbrp pekan ke depan. Seandainya pun masih dianggap belum layak, bantu doanya yaa supaya saya dan suami bisa terus dikasih kesabaran *aminnn*

  10. yoan 02/11/2011 at 03:35 #

    mbak aniiiss… *peluk*

    semoga dimudahkan Allah dan usahanya berhasil ya, mbak anis…

    • zoothera 02/11/2011 at 04:39 #

      Amiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnn… makasiiyy yoand..😉

  11. kakaakin 31/10/2011 at 23:21 #

    Salam kenal ya, Mbak.
    Saya kesini dari Greenpensive.
    Subhanallah…
    Perjuangan yang luar biasa. Semoga mendapatkan yang terbaik dari Allah Ta’ala…
    Semangat ya…🙂

    • zoothera 01/11/2011 at 11:16 #

      Salam kenal juga.. sering maen yaaa ke “rumah”nya Lyli?
      Makasih untuk doa dan semangatnya… amiin🙂

  12. zoothera 31/10/2011 at 11:57 #

    @Uyiph: iya yiph, yang penting selalu berbaik sangka sama Allah dan nyerahin semua ke TanganNYA..Insya Allah
    @Jeng Windya: Biayanya memang tergantung dari berapa kali suntikan puregon yg diresepin.. intinya sih biaya insem+washing spermnya ga terlalu mahal.. amin makasi yaa doanya jeng.. doa yang sama untuk windya..
    @Jeng Jeni: amin aminn ya Rab… *doakujugauntukdirimu

  13. jeni 30/10/2011 at 11:17 #

    aq berkaca~kaca bacanya…sungguh luar biasa tahapan apa aja yg kalian ber2 lakuka.Smoga Allah menggantinya dgn keberhasilan program kali ini ya *terkirim doa utkmu

  14. Windya MuLia 30/10/2011 at 00:12 #

    TFS ya anis…biayanya notbad yaah.
    Bismillah, smoga program kali ini berhasil yaa, insyaAllah…Amin.
    Fighting!🙂

  15. uyip 29/10/2011 at 03:50 #

    Anis. setiap usaha pasti akan menemukan hasil yang positif. mudah-mudahan berhasil ya nis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: