“Barang-Barang Berharta” kami, sebuah refleksi

16 Mar

Weh, kalo denger kata barang berharta rasanya gimanaa gitu, kesannya kan  identik dengan kekayaan seseorang yang bila diukur kadar pajaknya akan bernilai tinggi.

Menurut saya, barang-barang berharta yang mau saya ulas di sini  sepertinya lebih “kaya” dari sebuah kekayaan manapun yang bersifat duniawi. Karena apa? Walau bernominal kecil, riwayatnya sangat berarti buat saya dan suami karena mengiringi perjalanan pernikahan kami sampai tahun ke-4 ini.Di awal-awal pernikahan (2007), saya dan suami sangat menikmati yg namanya “let’s life go flow” alias ngikutin alur aja, belum ada target khusus yang muluk-muluk.

Sejak menikah di awal 2007, di 1-2 tahun pernikahan, kami masih menumpang hidup di rumah ortu suami/mertua. Sebenarnya, kami ingin sekali belajar mandiri dan membangun istana mungil kami, tetapi mengontrak rumah tidak pernah terpikirkan oleh saya dan suami karena prinsip kami adalah daripada uangnya untuk bayar kontrakan mendingan untuk bayar cicilan rumah, tapi apa daya keterbatasan dana membuat kami terpaksa menahan diri dulu seraya menabung untuk kemudian memikirikan target memiliki rumah sendiri. Lagi pula mertua saya baik sekali alias tidak pernah merasa keberatan kalau kami menumpang untuk sementara waktu..sooo baik-baiklah saya tinggal di PIM (Pondok Indah Mertua bacanya) dan berusaha semaksimal mungkin menjadi anak mantu yang tau diri,baik hati, tidak sombong, lagipula rajin (bantu-bantu gituh maksutnyah).

Dalam hal keuangan keluarga, suami saya termasuk yang memberi kepercayaan penuh kepada isterinya. Nah berhubung dua tahun pertama kami tidak dipusingkan dengan urusan ketelebelece kaya bayar cicilan rumah, bayar listrik, bayar pajar rumah, beli beras, beli air mineral, beli gas, belanja bulanan, makan sehari-hari etc, maka cash flow kami pun sangat-sangatlah amannnnn karena semuanya bisa dibilang terpenuhi di sana  :mrgreen:  (terima kasih ma pa kalian tidak pernah komplain dengan betapa parasitnya kami Bwahahaha).

Mau tau buktinya? walau asupan cash flow saya dan suami hanya bersumber dari gaji kami yang saat itu terbilang pas-pasan, kami nih ya masih bisa membagi cash flow bulanan ke dalam beberapa sub seperti nabung + zakat, ongkos + makan di kantor, traktir/beli kado/angpau (kalau ada event kaya ultah/anniversary/kawinan), dan hiburan (jalan-jalan, nonton, atau kulineran). Bahkan untuk urusan kulineria, hampir bisa dipastikan setiap wiken kita berdua hunting tempat makan enak (mayoritas pinggir jalan sih) demi memuaskan hobi kita yang satu ini. Yah pokoknya outcome kami ga ada yg bernilai investasi yang dibelanjakan dalam wujud barang/benda.

Baru deh di pertengahan tahun 2007 kami mulai membeli sesuatu dan selanjutnya menyusul yg lainnya. Mayoritas sih yg kami beli itu sebisa mungkin nyicil, yahh paling sedikit 6 bulan lah. Alasannya tak lain biar cash flow kami ga kembang kempis😀

Kurang lebih, berikut rincian dari ” barang-barang berharta” yang bisa dibilang paling berkesan dan menjadi sebuah refleksi dari perjalanan pernikahan kami selama 4 tahun ini.

– Laptop Axioo (modelnya apa ga inget)  menjadi harta pertama yang kami miliki
Waktu beli: Sekitar Juni 2007
Tempat beli: toko elektronik di PIM 1 (lupa namanya karena di pertengahan 2008 tokonya bwubarrr).
Inget banget, kala itu laptop masih mahal banget bokkk soalnya pengguna laptop belum seramai sekarang makanya cuma mampu beli yg lokal punya. Tadinya kami mau membeli cash, tapi kembali lagi ke prinsip kalau memang bs nyicil kenapa ngga, nah kebetulan banget ada seorang teman yg berbaik hati menawarkan pinjaman separuh dari harga laptop yang mau kami beli. Akhirnya, jadi deh selama 1 tahun kami konsisten mencicil uang yang kami pinjam tsb.
Cerita di balik layar: Alasan kami memilih laptop sebagai benda yang harus dimiliki adalah selain untuk hiburan semata di kamar “kami” (setel mp3, nonton film, browsing-browsing, atau nyimpen foto2)  juga supaya saya bisa membawa editan ke rumah dan tidak perlu lembur-lembur di kantor., atau ngerjain kerjaan kantor biar ga perlu lembur.
Namun, di prtngahan tahun 2008, saya dan suami mendapat fasilitas laptop dr kantor sehingga akhirnya Axioo kesayangan kami terpaksa dijual ke kantor bpk mertua dengan harga yg “nyungsep”(penyusutannya dlm setahun persis separonya).

Portable Wifi di rmh mertua.
Berhubung di rumah mertua ada koneksi internet yg kenceng punya maka suami mengusulkan untuk memfasilitasi wifi di komputer utama yg tak lain meja kerja bapak mertua, alasannya biar semua penghuni rumah ga perlu antri untuk internetan dan bisa internetan dari dlm kamar.

TV Samsung 21 inc layar datar (bukan LCD)
Lupa belinya sekitar Oktber 2007.  Karena blom punya rmh, sementara ditaro di rmh mertua. Namun, setelah punya rumah, TV ini menjadi salah satu penghibur setia kami, yahh untuk sekadar nonton OVJ atau nyetel DVD bajakan uppsss!!😉

Kulkas satu pintu seken. Kebetulan, ada seorang teman yg pindahan rumah dan berniat menjual barang2nya termasuk kulkas ini. Karena dia kasih hrg murah (kalo ga salah cuma gope) akhirny tnpa pikir panjang kami membelinya. Seperti halnya TV sebelum kami punya rumah, terpaksa rumah mertua menjadi pelabuhan sementara dari kulkas ini (numpuk2 deh tuh dapur rmh mertua “̮hϱhϱhϱ”̮ )
Oiya, berhubung kulkas satu pintu yang notabene masih harus rempong dengan urusan bunga es di freezernya, saat ini sebenarnya kami berencana menjualnya dan ingin mengganti dengan yang 2 pintu. Tapi bingung mo dijual ke mana secara harga jualnya murah banget pastinya, jd sampai detik ini msh memikirkan solusinya.

Rumah (harta termahal yg bernilai investasi)
Waktu beli: Mei 2008
Spec: 72/50, Nyicil 15 thn. BNI syariah dengan Depe sebagian dr uang angpaw “̮hϱhϱhϱ”̮
Riwayat: hunting rumah sejak November2007-April 2008, cari2 rmh mulai dr bintaro, BSD, Cirendeu, Sawangan, Ciputat, Pndk Labu, sampai Depok Ujung dan akhirnya berjodoh dengan Pocin (Pondok Cina) Residence II yg lokasinya msh di pekampungan betawi Pondok Cina. Walaupun di pekampungan tapi sebenarnya klau di tarik ke pinggir jalan raya, lokasi rumah kami itu di jantung kota Depok, yaitu Margonda makanya jangan heran kalau nilai investasinya terus meningkat. Bayangkan, dlm stahun aja rmh sejenis seperti rumah kami harganya naik 20jt. Barangkali karena memang daerahnya sangat potensial untuk dijadiin lahan usaha, untuk kos2an misalnya (rumah saya pernah diminta untuk dikontrakan sm mahasiswa baru UI yg emang lagi cari kontrakan).

Akhirnya,sejak Juni 2008 kami mulai resmi menyicil rumah dan sejak itu pula mulai hidup prihatin:mrgreen:
Rumah kami selesai dibangun akhir thun 2008 dan memanfaatkan momen malam tahun baru hijriah, kami mengadakan selamatan dengan mengundang bpk2 pengajian dr lingkungan sekitar. Namun, kami baru resmi menempati “istana” mungil kami di akhir thn 2009 sambil terus menyicil isi rumah (sampai sekarang malahan).

Sepeda lipat (SeLi) Dahon XXX.
Di bulan Oktober 2008, saya memergoki suami sdg browsing2 seli yg kala itu belum sebooming sekarang ini. Waktu saya tanya, dia bilang kepingin ngumpulin duit n beli seli. Alasannya karena dia berencana B2W dan dgn spd lipat dia bisa bawa2 ke dalam bus/kereta. Untuk menyenangkan hati suami, saya pun cerita kalau saya punya tabungan di koperasi kantor dan bisa saya ambil sebagian untuk membeli sepeda yang ia mau. Akhirnya, setelah hunting2 di beberapa toko sepeda via internet, kami membeli seli seri Dahon xXx di sebuah toko sepeda di daerah BSD (kalo ini kebalikan dari laptop yg hrganya makin ke sini justru makin meroket. Bila dulu saya beli itu seli masih di bawah 3 jt, sekarang seli yg sejenis hrganya bs smpe 3jt atau bahkan lebih. Kalau mau dijual, untung kali yaaa..

Tempat Tidur. Setelah memutuskan untuk misah dr ortu, barang yg harus kami punya ya ini nih, tempat tidur dan kasurnya. Mengingat kamar kami sangat imut, akhirnya kami memutuskan untk memesan dengan ukuran yg telah disesuaikan dgn ukuran kamar. Waktu itu kami memesannya di salah satu toko furniture di bilangan Fatmawati.

Meja makan. Kalau barang yg satu ini dibeli lebih dikarenakan faktor suami saya yg sudah terbiasa makan di meja makan (kalau saya mah ngemper di ubin jg ga masalah “̮hϱhϱhϱ”̮ ). Dan kebetulan banget ada temen yg kerja di Index margonda (dpt diskon karyawan boww) sooo dapet dehh meja makan yg satu ini. Alasan memilih meja makan yg konsepnya folding yaa karena biar ga menuh2in ruangan.

Sofabed. Sebelum membeli sofa/tempat duduk, kami biasanya nonton tv cuma di atas karpet. Akhirnya setelah ada dana lebih, saya mengusulkan untuk membeli sofabed (sofa yg bs dijadiin tmpt tidur). Dari hasil2 browsing, kami dapat toko furniture di Bogor (hrganya lbh miring drpd di Index). Pdahal mah kalo diitung2 sama ongkos tol+bensin jdnya sama2 aja sm index wakkaaka. Sayang beberapa bulan kemudian, seorang teman yg berbadan tambun deng tidak sadar body menduduki kursi saya dannn alakazamm kursinya jd patah di salah satu sisinya, maka dari itu sampai sekarang saya memposisikannya tidak seperti sofa tp lebih seperti kasur.. *duhh adai-ada aja*

Lemari baju pintu geser. Sebelum pnya lemari, saya meletakkan pakaian-pakaian saya dan suami di dalam 2 buah koper dan 1 tas yg biasa digunakan u/ travelling. Berhubung setiap mau ambil baju selalu ribet, akhirnya kami memutuskan untuk membeli lemari baju. Demi menyesuaikan dgn ukuran kamar, lemari jg kami pesan khusus di toko yg sama waktu kami beli tmpt tidur. Biar ga ribet saat membukanya, kami memesan yg berpintu geser dan banyak tempat untu menggantung baju.

Sepeda polygon seken. Di akhir 2009, ada teman B2W suami yg ingin menjual sepeda polygonnya. Waktu itu, suami nawarin ke saya kira2 mau diambil apa ngga. Mengingat saya juga kepingin nyobain yg namanya Car Free Day di Sudirman-Thamrin yg selalu ada setiap hr minggu, saya pun menyetujuinya. Lagipula harganya murah meriah dan kondisi barang masih mulus. Sejak itu, kalau lg rajin, saya dan suami suka carfreeday-an ke Sudirman-Bunderan HI. *Kami gowes terus lho dr rmh mertua, PP*

AC. Walaupun kalau sore menjelang malam/kalau musim hujan rumah kami berudara sejuk-dingin, tapi mengingat posisi rumah yg tidak begitu strategis (baca: kalau siang matahari gonjreng banget ke arah rmh) maka jadilah kalau siang hari saya berasa sedang ada di dalam sauna. Swangking nampol pwanasnya, sampai2 kipas angin aja udaranya jadi hangat.. Sering cerita soal gerahny tinggal di Depok, akhirnya di awal 2010 ibu mertua mengusulkan u/ pasang AC. Akhirny disepakati untuk membeli AC 1/2 PK dengan memanfaatkan kartu kredit ibu mertua, jadi selama 1 th kami membayar cicilan via ibu mertua (lagi2 nyicil “̮hϱhϱhϱ”̮ ). Sekarang, kalo lg kegerahan tinggal ngadem aja di dalam kamar Alhamdulillah🙂

Laptop, modem, dan Harddisk eksternal. Setelah memutuskan resign (Juni 2010), fasilitas laptop punya kantor mau ga mau harus saya kembalikan. Tapi karena saya bertekad u/ tetap jd freelancer, saya pun memerlukan laptop u/ sarananya. Jadilah uang pesangon dr kantor saya investasikan ke laptop, modem, dan harddisk eksternal. Alhamdulillah belum setahun udah BEP alias balik modal, semoga rejeki bs terus mengalir dari barang2 ini آمِّينَ

Meja komputer mini. Barang yang satu ini adalah hadiah suami untuk saya. Ini karena sebelum ada meja komputer, meja kerja saya selama mengedit/menulis yaa di meja makan. Tapi karena sering ga tahan gerah kalo pas lg kerja siang, waktu jalan2 ke index akhirnya suami membelikan meja komputer mini yg bs diletakkan di sudut kamar (persisnya di depan jendela). Dan taraaaa sudut kamar dengan view jalanan dan pohon2 rindang di depan komplek disulap menjadi meja kerja saya dan kalau pas giliran kerja siang hari saya terbebas dari kepanasan.. Alhamdulillah.

Dan barang berkesan terakhir yg belum lama kami miliki adalah I-pod gen 4 seken. Ceritanya, awal januari kemarin, teman kantor suami ada yg menawarkan ipodnya yg baru 2 bulan dibeli, alasannya dia dpt kepingin ganti sm I-phone 4. Suami saya sepertinya tergiur dgn harga yg ditawarkan, lebih murah 300rb dr hrg asli, msh garansi 10 bulan, dpt silika antigores, dan yg terpenting bs dicicil 2 kali (lagi2 hoki). Setelah mempertimbangkan beberapa hal (plus-minum bila membeli) akhirnya kami ok untuk bertransaksi ke teman suami tsb. Dan jadilah sejak sebulan lalu, saya (karena yg lebh sering gunain saya) punya mainan baru yg menurut saya sangat bermanfaat karena bs menggantikan kejenuhan waktu antri di dokter/bank karena saya bisa menggunakan berbagai aplikasi2 menarik seperti main game, nulis2, baca e-book, baca al-quran, atau sekadar baca resep masakan. Alhamdulillah skarang sdh lunas cicilannya.

Insya Allah ke depannya, Allah masih terus bermurah hati memberi rejekiNYA dan kemudahan dalam perolehannya sehingga kami bisa mewujudkan apa yg kami impikan dalam sebuah kenyataan. آمِّينَ
Terima Kasih Allah untuk semua kebaikan-kebaikanMU pada saya dan suami.

13 Responses to ““Barang-Barang Berharta” kami, sebuah refleksi”

  1. walankwalank 03/12/2011 at 18:22 #

    jadi inget kakakku yg juga hobi ngutang aka mencicil, akhirnya banyak benda dia bs punya. Dan memang terbukti cash flow keuangan keluarga jd lancar, buat yg bisa mengelola ya…hehehe…lumayan juga, jd pengen bikin postingan sejenis neh *gubrak*

    • zoothera 06/12/2011 at 01:22 #

      Iya Bro, utang bukan hutang kekekeke tararengkyu diedit.. btw, utang kalo diliat dari sudut pandang yang positif yaa itu bisa bikin kita punya sesuatu dalam artian barang2 yang awalnya cuma bisa kita idam2kan.. syaratnya cuma 1: Konsisten..

      • walank ergea 06/12/2011 at 02:06 #

        nah, itu dia masalahnya Nies. Aku paling susah konsisten, makanya agak enggan berutang. Padahal ada seninya ya sebenernya. Btw, sebenarnya kata ‘hutang’ lebih enak ya, tapi entah mengapa KBBI justru mendaftar ‘utang’ sebagai entri yang baku. Tanya rumput yang bergoyang, hehe…

  2. shelvywaseso 03/08/2011 at 08:41 #

    Woh, asyik nih. Baru tau ada Perumahan di Pondok Cina. Masih ada kapling yang kosong taaakkk? Ngiler**

  3. ichsanalfaqir 31/03/2011 at 02:55 #

    lumayan… dapet data buat pemeriksaan… hehehe…

  4. Sya 23/03/2011 at 05:35 #

    Waduh Mbaaaaaa, baca postingan ini saya senyum-senyum sendiri, menghayal saya bisa nyusul kayak Mba Anis. Hihihih.

  5. zoothera 18/03/2011 at 14:47 #

    @bunda monda: iyhihi masih mending bunda n jeng yeni, rumahnya bisa langsung ada isinya. Lah aku? Masih bs maen bola hahaha.. Aku sengaja ga beli mesin cuci karena aku ngelondri kiloan. Kebetulan di daerah rmh byk bgt cuci kiloan yg murmer/kgnya.

    @lyli: totally agree ly.. Thankyu a lot :))

    @utine: kalo mo ngutip quotenya, nama gw ditulis di dalam kurungnya ya? Wkakaka

  6. yustine 18/03/2011 at 02:13 #

    “hutang, pengikat rumah tangga harmonis”

    i like this quote🙂

  7. zoothera 17/03/2011 at 11:34 #

    Iya jweng Yeni, seru banget yakss? Justru hunting n ngumpulin barang2 itu yg jd seninya berumah tangga, apalagi kalo bs nyicil lebih nyeni lagi kayanya ahahaa, sampe2 suamiku punya statement bgini: “kalau mau rumah tangga langgeng, sepertinya tiap cicilan lunas harus ambil cicilan lagi.. Kan jd terikat terus tuh”:mrgreen: kalo dijadiin judul buku mngkin jadinya bgini: “hutang, pengikat rumah tangga harmonis”😆

    • Lyliana Tia 17/03/2011 at 12:34 #

      Allah kasih rezeki itu gak diduga2 asalnya.. Buat hambaNya terkasih insya Allah adaaa aja jalannya.. Emang barang2 ini 5 tahun, atau 10 tahun lagi, bahkan lebih.. Mungkin udah gak ada.. Tapi memori akan abadi.. Keep on writing your thoughts and memories, then you will smile when you look back and see how far you’ve been through..🙂

    • walankwalank 03/12/2011 at 18:20 #

      hutang ato *utang?ups, hehehe

  8. Jeni 17/03/2011 at 11:13 #

    Seru juga baca ceritanya jeng masing2 keluarga punya cerita bersejarah ya hehehhe. Kl saya ma suami, isian rumah adalah benda2 kamar kos msg2 yg kami kumpulkan sjk kerja. Jd begitu nikah pindah ke rumah kontrak seperti memindahkan harta pribadi menjadi harta bersama.
    Untuk barang2 tambahan yg lumayan ya tetep pake cicilan dan sama2 prihatin sekalian uji kekompakan, hehehhee.

    • monda 17/03/2011 at 14:36 #

      sama, aku juga seperti mbak jeni
      barang2 dari kosan diangkut semua,
      barang yang pertama dibeli setelah menikah, mesin cuci yang front loading supaya nggak usah bilas2 … lebih praktis kalau nggak ada pembantu :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: