Nazar PraBayar, Why Not? ***

21 Dec

Sumber: Google image

 

 

“Gw mo nazar ahh kalau bla bla bla…”

Sering denger kan ada ucapan seperti di atas keluar dari mulut seseorang atau setidaknya pernah mengucapkan sendiri, kendati hanya di dalam hati?

Kalau saya pribadi sih bisa dibilang jarang banget ngutarain niat untuk bernazar, palingan bisa diitung pake jari dan biasanya juga ngebayarnya dengan jalan puasa sunah.

Suatu waktu, teman saya yang tahu banget kalo saya sedang kepinginan punya momongan sempet ngasih saran yang kurang lebih isinya bgini:

Teman Saya (TS): Mba, lo pernah coba utk nazar ga dalam rangka ikhtiar lo punya anak?
Saya (S): Belum pernah, emang knapa?
TS: Lo coba deh nazar apa gitu, tapi diubah pola pembayaran nazarnya, kalo biasanya kita m’aplikasiin nazar setelah keinginan kita terlaksana, nah kali ini lo m’aplikasiinnya duluan.. insya Allah kalau niat kita baik dan lillahitaala, keinginan kita bisa terkabulkan, temen gw pernah sih nyoba bgitu dan alhamduliilah berhasil

S: Hemm, menarik juga tuh..prinsipnya jadi kaya dibayar di muka gitu ya?? :mrgreen:

Sebenernya, kalo ditilik secara harfiahnya, nazar itu memang merupakan Janji yang diucapkan pada diri sendiri atas suatu maksud/tujuan dan bila maksud/tujuannya tercapai, sang pengucap janji hendak berbuat sesuatu sesuai dengan janjnya.

Perihal nazar di bayar di muka atau yang saya istilahin sebagai nazar prabayar ini pernah saya utarakan ke suami tercinta. Responnyacukup baik, cuma dia jadi meragukan kalo-kalo di dalam itikad nazar tsb akan ada unsur hitung-hitungannya sama Allah. Emmmm ada benarnya juga sih apa yang dibilang suami, tapi saya berusaha untuk tetap merespon hal ini dengan kaca mata positif karena nazar prabayar yang saya maksud di sini ini saya ibaratkan dengan menyegerakan suatu perbuatan yang memang sudah menjadi niat baik kita, asalkan dengan catatan tebal kita kudu ikhlas alias tanpa pamrih apapun.

Lagian, bukannya selama ini sebenarnya kita udah terlalu dimanjakan Allah dengan segala nikmat yang Dia berikan, sekalipun tak pernah kita pinta atau tanpa pernah Dia meminta pamrih dari kita. Jadi, boleh dong kita malu sama Allah, sekali-kali (atau sering-seringlah) kita yang melakukan action duluan. Saya yakin, tanpa perlu mengharap pamrih apapun, niscaya Dia ga akan pernah pelit mengganjar kita dengan bejuta-juta (tak terhingga bahkan) nikmatNya, salah satunya adalah dengan memakbulkan apa yang menjadi niat dari nazar prabayar tsb. Amiinn wallahualam..

*** Catatan kaki:

Sementara saya masih buntu ide untuk melanjutkan beberapa tulisan saya yg masih bertengger di file draft, saya sengaja mengopy paste tulisan lawas saya yang pernah saya publish di note FaceBook. Semoga bermanfaat… 😀

3 Responses to “Nazar PraBayar, Why Not? ***”

  1. zizima 28/12/2010 at 01:15 #

    wah bisa juga yaa? mungkin pas ngelakuinnya lebih niat kali ya. cz udah ketahuan effortnya gede🙂

    salam kenal🙂

  2. Asop 22/12/2010 at 06:51 #

    Eh, iya ya, gak kepikiran buat saya untuk nazar “prabayar”.🙂
    Selama ini saya pernah nazar (semua lunas), tapi dengan sistem “pasca”.😀

    • zoothera 23/12/2010 at 04:35 #

      Samaaa.. waktu itu pernah nyoba sekali u/ praktikin dan amazing betulan makbul loh.. try it deh! tapi lillahi ta’ala yaaa🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: