Cinta suami sebatas body isteri?

8 Jul

sumber: googleimage

[udah gendut di hina dina..,sedih amaaattt…]

[kalo bisa milih,gw jg gak mau jadi gendut begini..,skg udah gendut..,dihina..,sakit atiii bangeett…hiks…]

[jangan hanya bisa menghina krn skg gw gemuk,tapi seharusnya bersyukur & berterimakasih atas apa yg bisa gw berikan..,dan bisa gw jaga dengan baik..,bukan penghargaan yg gw terima,tapi kok penghinaan…,sediihhnyaaa…]

Tiga mention di atas saya kutip dari status seorang teman yang terpampang di dindingnya selama 2 hari belakangan ini. Status pertama diposting tadi malam, sementara yang kedua dan ketiga merupakan hasil apdetan hari ini yang selang waktu postingnya hanya berjarak hitungan menit.

Awalnya saya mengabaikan waktu membaca mention yang pertama karena saya pikir dia hanya sedang mengungkapkan suatu hal yang sedang dialamin orang lain. Cuma, begitu saya membaca mention ke-2, lalu yang ke-3, “pusat syaraf” kepo saya (yang sejak resign semakin terasah karena rajin sekali membaca timeline orang-orang di fb/twitter) langsung terangsang walhasil mulailah saya menunjukkan rasa ingin tahu saya dengan memberi komentar seputar statusnya itu. Kesimpulannya, teman saya ini memang sedang down se-down-downnya, kalau ngga mana mungkin dia sampai bela-belain mengulang-ngulang kata sakit hati setiap membalas komentar teman-temannya yg juga berempati sama dia.  Saking keponya, bgitu saya melihat status YM teman saya ini sdg ON, maka perbincangan seputar mention-mention dia pun berlanjut di ranah JAPRI. Tepat seperti praduga dalam pikiran saya, hasil investigasi menyimpulkan bahwa oknum yang membuat dia sebegitu desperado tak lain adalah suami tercintanya.

“Iyaaa niieesss..Mungkin sih dia bercanda, tapi kalo keseringan juga kan BT. Aku gemuk kan juga krn aku hamil,ngelahirin plus, nenenin anak”

Jawab teman saya waktu saya bilang barangkali itu hanya candaan suaminya soalnya sejak berat badan saya seakan enggan bergeser turun dari kisaran over 55, saya pun cukup kenyang dengan becandaan suami yang sering kali mengarah pada putaran fisik saya yang semakin menggemuk. Memang sih sedikit annoying, tapi saya dengan ringan selalu becandain balik dengan bilang “tapi makin seksi kan?” Kalau udah dibgituin suami saya paling cuma bisa ketawa-ketawa licik seakan tidak mau terima dengan klaim tsb.

Intinya, walau teman-temannya banyak yang menghibur dengan masukan-masukan bernada positif seperti:

“Emang kenapa si dg gemuk? Gw enjoy aja tuh, sampe dipanggil rendut, knp mesti merasa terhina? Emang kenyataan kok. Dulu lu jg sering ngatain gw bulet, gw gak merasa terhina tuh. Gak tersinggung, santai aja, kalo kenyataannya gt. Sabar, gemuk itu bukan cacat, bukan sesuatu yg hina, kalo dicela, santai aja, jgn tersinggung, emang kenyataan gemuk kok tersinggung, berasa langsing? Hahahahaha…..ku tau Gusti Allah ora pernah sare…”

“sapahh?? sapahh yg ngehina lo?? sini bilang ma gw… semangat, biar gendut asall sexy, g jaman sekarang kurus2…. okehh sayangg…”

“yg terpenting sehat.. mendingan gemuk tapi sehat daripada kurus penyakitan.. lagian dirimu ga gendut ah, tp montok dan seksi”

“bner banget apa kata sohib2 lu.. gw klo liat bini gw kurus..kaga demen..malah gw omelin.. Gw demen bini gw gemuk/brisi.. Biar antep…”

Teman saya itu tetap tidak bergeming dari rasa sakit hatinya, malahan dia semakin mewujudkannya dengan kata-kata yang menjurus pada selfblaming alias mengasihani atau menyalahi atau mengutuk diri sendiri seperti:

“makasih yah..,tetap semangat kok,walaupun sakit..hiks..”

“sedih amat yaakk…,gini lah…kalo udah gendut,jelek,di hina deehh…,apppeeessss…. ”

“.,bahagianya punya pasangan kaya gitu..,amiinn…”

“iya…,udah gemuk gw skrang..,pokoknya gemuk,gemuk dan gemuk lah..”

Kalau dipikir-pikir, apa yang teman saya rasakan seperti kondisi di atas memang tidak sepenuhnya salah seorang suami memang notabene menjadi figur terdekat seorang isteri yang bisa dibilang segenap rasa cinta, perhatian, kata-kata manis yang keluar dari mulut suami merupakan modal utama rasa percaya diri seorang isteri. Yakin deh, contoh sederhananya begini, walo banyak orang yang bilang kalau saya ini akan terlihat lebih cantik (deuuuu cantik!! diliyat dari menara eivel kali ya? :D) kalau bermake-up, tapi karena menurut suami saya bagusan ga pake make-up, saya justru jadi lebih pede saat tidak bermake-up ketimbang saat sedang mengenakan make-up.

Cuma, kalau sampai harus sedih yang berlarut-larut dan terus terkungkung dengan rasa sakit hati, menurut saya hal ini sudah tidak baik karena justru memperlihatkan betapa kita ini memang sangat menyedihkan dan bisa jadi malah akan berlanjut ke arah pertikaian suami-isteri. Hal ini mungkin saja loh karena isteri yang sedang merasa sakit hati pada suami sudah tentu akan bersikap kurang menyenangkan seperti jutek kalau diajak ngomong sekalipun suami ngomongnya secara baik-baik, ogah-ogahan kalau diajak bercinta, cenderung nyuekin, dan menjadi masa bodoh dengan suami. Widihh menyeramkan yaa… alih-alih protes dengan prilaku suami ehhh suami malah akan menjauh dan bukan tidak mungkin akhirnya ngelirik cewek lain. *ketok-ketok tangan ke kepala trus ke meja berulang kali sambil bilang amit-amit jabang bebi*

Jadi, inti dari tulisan saya ini adalah:

“Wahai para perempuan yang sedang mengalami penurunan PD (bila tidak mau dibilang krisis) karena badan yang semakin menggemuk *seperti saya misalnya* hayooo tanamkan dalam diri bahwa walau gemuk kita masih memiliki banyak kelebihan sehingga tidak harus membunuh karakter-karakter kita yang lain yang sebenarnya lebih penting daripada hanya mengurusi timbangan badan yang terus naik, tapi tetap harus juga sihh mikirn untuk menjaga agar jangan sampai over karena yakin deh segala sesuatu yang over itu kurang baik, sooo gemuknya yang sehat gituh dengan tetap rajin berolahraga misalnya, jadinya kan bukan gemuk yang gelomboran alias badannya kenceng dan terlihat fresh”

“Wahai para lelaki, khususnya para suami, jangan pernah melunturkan cinta kalian pada isteri hanya karena isteri kalian fisiknya tidak seideal seperti waktu kalian menikahinya, tapi kembali lagi pada tujuan awal kalian menikahi mereka, apakah karena body semata atau memang karena kalian menyintai mereka apa adanya. Lagipula, lihat body kalian, apakah perut kalian juga masih se-sixpack waktu kalian menikahi mereka? Nggak kan? Pasti perut kalian juga sudah membuncit.. jangan salah kebuncitan perut kalian itu juga salah satu tanda cinta dari para isteri loh, karena pasti isterinya rajin masak dan menyuguhi kalian dengan makan yang enak-enak, jadi jangan egois dan cintai isteri kalian apa adanya yaaa!!”

5 Responses to “Cinta suami sebatas body isteri?”

  1. Asop 25/09/2010 at 05:31 #

    Saya terus ingat ama nasehat Ibu saya di sini:
    http://asopusitemus.com/2010/05/16/wanita/

    Seperti apapun perempuan, jangan kamu sakiti mereka. Mau seperti apapun mereka, mau sejelek apapun jangan sekali-kali menyakiti mereka.

    Pria harus mau menerima wanita apa adanya, begitu pula wanita, harus mau menerima pria apa adanya.🙂

  2. yoan 12/07/2010 at 02:41 #

    iya gapapa bahenol, yang penting gaol…
    *eh?*
    *ditabok*

    emang sih, kalo kegendutan itu ga baek buat kesehatan. tapi yg tau tentang tubuh kita kan diri kita sendiri ya, mba… kalo uda ngerasa ga enak, ya kita coba lah olahraga atau kurangi porsi makan. bukan karena dihina orang, tapi karena KITA pengen SEHAT.

    *omonganku kayak orang bener aja…😆 *

    • zoothera 12/07/2010 at 03:18 #

      *sinih saya tabokpakecinta..loveplokkloveplok*
      Omong-omong betul sekali dek Yoand.. yang tau body kia kan ya kita ndiri, kalo udah ngerasa ga nyaman nantinya jg kita ndiri yang akan tersadarkan diri untuk hidup lebih sehat, lagian nih yaa aku ko ya merasa lebih gimanaaa gituhh dengan body aku yg skarang *menghibur diri*

  3. MU2' 10/07/2010 at 23:36 #

    alhamdulillah, akhirnya selese juga baca artikel ini…😀

    KOmennya satu aja, tetap bahenol tanpa kolesterol!

    Salam

    • zoothera 12/07/2010 at 01:59 #

      iyy senengnyah ada yang komentar.. makasih makasih loh..*norakbangetgasih? hehehe*

      Komen baliknya juga cuma satu aja, iya gapapa bahenol yang penting sehat dan bahagia, setuju tah?

      salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: