….dan akhirnya kami pun harus mengikhlaskannya….

18 Apr

“Air mata boleh mengalir, hati boleh sedih, tapi lisan hanya boleh mengucap yang Allah Ridha. Kami sungguh bersedih atas kematianmu” (Rasulullah kala ditinggal pergi selama-lamanya oleh beberapa puteranya)

Memasuki tahun kedua pernikahan, saya n suami (tepatnya saya yang ngomporin) sepakat untuk memulai program punya bebi. Atas rekomendasi bonyok mertua, dirujuk lah kita untuk mendatangi seorang dokter spesialis ObsGin (SpOG) yang emang terkenal sbgai konsultan reproduksi & infertilitas yang lokasi praktek terdekatnya di RSMI Jatinegara. Dari sini, mulailah kita periksa-periksa untuk mengetahui apakah sebenarnya ada something wrong di antara kita berdua.

Desember 2008

Pengalaman kedua ke SpOG, cuma alamak kali ini dokternya cowok. Bergidik lah jantung awak tatkala dokter mo cari tau kondisi rahim saya melalui vaginal USG… tapi syukurlah hanya berlangsung sekejap dan dari sini ketauan deh kalo rahim saya termasuk dalam katagori retrofleksi/rahim posisi terbalik. Melegakan setelah mendengar kalo posisi ini ga masuk sebagai penghalang saya utk Hamdan (baca Hamil).

Setelah sedilkit berkonsultasi, saya dibuatin beberapa surat pengantar utk mengikuti dua macam tes (tes darah dan HSG), sementara suami hanya dibuatin satu surat pengantar untuk mengikuti tes analisis kelayakan sperm.

Januari 2009

Saya melakukan tes darah untuk ngecek kadar hormon progesteron dan angka hasilnya = 18,95. Kata dokter, angka tersebut dianggap sesuai dgn siklus ovulatorik saya (nromalnya lebih atau sama dengan 10). Alhamdulillah, berarti tinggal satu tes lagi, yaitu HSG utk ngetahuin di rahim saya ada penyumbatan atongga. Suami saya pun ngikutin anjuran untuk ngetes kelayakan spermnya, dan alhamdullah hasilnya normal-normal saja.

Februari 2009

Bismillah, saya memberanikan diri utk ngelakuin HSG yang gosipnya menyeramkan. Alhamdulillah ternyata tidak seseram yang dibayangkan dan hasilnya tidaklah anomali, rahim saya baik2 saja ga ada penyumbatan atau something. Begitu dikonsultasikan ke dokter, hasil2 kami memang tidak bermasalah dan kita diharapkan untuk melakukan program rutin dengan meningkatkan makananan yang bergizi.

Maret 2009

Hemmmm koooo saya blum dapet yakkss?>??? tgl 5 iseng2 saya nespek (ngetes pake alat testpack)… degdegan bowww soalnya dr pengalaman yang udah2 hasilnya selalu negatif. TAppiiihhhh, eng ing eng, Amazing, tanda positif tertera di tuh testpack.. hemmmm mash ragu2 sihh sbnernya soalnya kan baru telat 5 hari gitu dehh.. cuma bgitu saya sms ke dokter, dokternya ngasih ucapan selamat dan bgitu saya kasih unjuk nyokap mertua, nyokap jg bilang itu beneran positif. Walhasil antara percaya pa ngga, saya excited bangatthhh, begitu pula suami saya. Akhirnya, tanggal 10 Maret, sesuai jadwal praktek dokter, saya ditemani suami memeriksakan kehamilan untuk pertama kalinya.

Dari hasil USG diketahui kalau sudah terbentuk kantong utk tempat embrio berukuran 5 mm, tetapi belum ada calon janinnya, dan usia kehamilan menurut siklus haid terakhir saya adalah sekitar 4 atau 5 minggu. Alhamdulillahhhhh ucap kami dalam hati. kita dijadwalkan untuk melakukan USG di pemeriksaan bulan berikutnya.

April 2009

Seperti layaknya orang yang sedang hamil, saya pun mengikuti hal-hal yang dianjurkan bagi ibu hamil seperti minum susu khusus ibu hamil, banyak mengonsumsi sayur dan buah, tidak makan junk food, dll.

Jadwal periksa kedua pun tiba.

[07 hingga 14 April 2009 menjadi saksi hari-hari terberat saya selama satu minggu].

(07 April)

Begitu tiba di RSMI Jatinegara, saya merasakan ada sesuatu yang keluar (semacam cairan) dari alat vital saya, saya sih berpikiran kalau itu hanya keputihan biasa yang wajar adanya. Saya pun mutusin utk segera ke kamar kecil. Betapa kagetnya bgitu saya tau kalau cairan yang keluar itu bukanlah keputihan, melainkan cairan berwarna cokelat yang lebih dikenal dgn istilah flek. Dengan rasa khawatir saya pun menelpon suami (yang lagi antri nomor utk konsul ke dokter) dan ngasih tau dia perihal flek yang saya alamin. Dia pun cuma bisa nenangin saya sambil bilang “banyakin doa, insya Allah ga ada apa2”.

Bgitu sampai di dalam ruang dokter, saya lgsg diUSG. Dari hsil USG, diktahui kalau kantung embrionya sudah berkembang dengan ukuran 15 mm dan calon janin jg sudah ada walau masih kecil sekali. Flek yang keluarpun segera dibersihkan dan saya dianjurkan untuk bedrest selama sminggu.

Karena saat itu dokter belum menemukan ada tanda2 kehidupan, saya dikasih surat rujukan untuk USG di RSCM, menurut Beliau di sana alatnya lebih canggih dan kemungkinan detak jantung janin sdh bisa diketahui.

(08 April)

Seperti saran dokter, saya dan suami ke RSCM. Menurut saya, di sana kondisinya cukup crowded, mana suami ga boleh nemenin pula, menyebalkan. Saya pun antri bersama ibu-ibu dengan berbagai kasus/kondisi/masalah seputar organ rahim mereka, ada yang hamil normal, ada yang udah 5 kali mengalami keguguran dan sedang hamil lagi tapi ngeflek, ada beberapa yang memeriksakan kista yang bertanam di rahimnya, ada yang hamil di luar kandungan, dan ada yang sedang hamil besar tapi katanya bebinya bermasalah. puiihhhhh setres dehhh rasanya….

ternyata di RSCM USG yang dilakuin pun pake alat yang biasa dan walhasil, hasilnya pun yaa sama2 aja spt hasil USG dokter saya, gimana sihhh???? untung dokter yang usg masih muda dan ganteng pulaaaa (sumpah kaya artis sinetron gituh), jadi sdikit dimaafkan lahh hahhahaaa.

(09-12 April)

Masa-masa bedrest hanya saya lalui dengan tiduran, baca2 buku, atau sesekali internetan biar tetep bisa komunikasi dengan dunia luar, entah melalui fesbuk, YM, atau sekadar googling utk cari info sputar flek pada kehamilan (untungnya suami cukup baik mau minjemin HPnya buat saya berselancar di dunia maya).

[Selama waktu ini pula flek yang saya alamin ga kunjung hilang]

(13 April)

Sore hari menjelang magrib, saya merasa khawatir karena flek saya bercampur dgn darah, yups saya mengalami bleeding layaknya menstruasi. Tidur saya malam itu pun menjadi tidur tertak-nyenyak.. dan menjadi mimpi buruk di esok harinya.

(14 April)

Karena bleeding tak kunjung berhenti. saya panik, suami pun panik. Atas saran nyokap mertua, saya diminta segera jemput dia di tempat kerjanya untuk selanjutnya menuju RSMI Jatinegara. Suami saya juga ijin pulang cepat dan juga beranjak ke RSMI bareng bapak mertua. Tiba di UGD, saya dialihkan ke kamar bersalin. Selang setengah jam tiba di kamar bersalin, suami saya dateng dgn wajahnya yang khawatir campur sedih. Setelah tes urin, saya diminta bedrest d sana hingga dokter datang.

Ga lama dari tes urin, suster datang memberi kabar bahwa hasil urin saya masih positif. Demi mendengar itu, saya bisa melihat secercah aura cerah di wajah suami saya yang bisa bikin dia tersenyum lagi, saya pun berusaha utk tersenyum meski dengan firasat yg getir.

Begitu dokter tiba, saya diUSG kembali dan pendarahan dibersihkan. Ternyata hasil positif tersebut bisa terjadi lebih dikarenakan kantung embrio masih bertengger di rahim saya, tetapi dari hasil USG ukuran kantung embrio dan calon janin tidak menunjukkan gejala perubahan atau berbeda dari hasil USG seminggu yang lalu. Utk menghadapi kejadian terburuk, dokter menganjurkan saya utk tes darah untuk mengecek kadar progesteron saya kembali. Menurut Beliau, bila angkanya melebihi atau sama dengan 30, insya Allah msih bsa dipertahankan, tapi bila angkanya di bawah itu, terpaksa harus dikeluarkan. Dengan alasan tersebut, dokter juga memberi saya resep peluntur janin in case seandainya hasil lab tsb jelek.

Saya dan keluarga pun pulang membawa sedikit asa bahwa hasilnya akan bagus.

Ternyata Allah berkehendak lain dengan asa kami. Di tengah keinginan saya utk melelapkan mata, saya ngerasain mulas yang teramat sangat (seperti ingin BAB) yang bikin saya ngerasa panas di seluruh badan. Rasa mulas ini membuat saya memutuskan utk ke kamar mandi. Dan masya Allah, ternyata saya ngalamin keguguran, iya janin saya keluar sendiri pada akhirnya.. panik, sedih, shock, gemetar, campur aduk jadi satu. Saat itu juga saya histeris manggil-manggil suami dan ibu mertua. Begitu mereka datang, saya menanyakan kepastian ke ibu mertua bahwa yang keluar itu benar calon janin saya. Dan jawabannya adalah IYA…..

suasana malam itu sangat-sangatlah horor menurut saya. Begitu masuk kamar, suami saya langsung menangkap tubuh gan mendekapnya, yang bisa saya lakuin hanyalah menangis di sana. Saat itu, rasa-rasanya saya ngalamin dejavu, yakni merasa kembali pada masa di mana saya kehilangan ibu tercinta utk selama2nya, hanya bedanya yang menangkap tubuh saya waktu itu adalah Bapak saya.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, astagfirullahaladzim, hanya kata-kata itu yang bisa saya dan suami ucapkan, kata-kata yang bisa bikin kondisi kita berdua sedikit kembali stabil.

Di tengah upaya menenangkan hati saya, suami saya berujar “mungkin ini jawaban dari doaku di Isya barusan isteriku, jadi diikhlasin aja yaa, insya Allah ini menjadi jawaban terbaik dari doa panjang kita selama seminggu ini”.

….dan akhirnya kami pun harus mengikhlaskannya….

Atas nama saya dan suami, kami mengucapkan beribu terima kasih atas doa yang udah diberikan teman-teman atau kerabat semua. Smoga di balik musibah ini, kami bisa memetik pelajaran terindah yang bisa kami jadikan pelajaran di kemudian hari. Insya Allah, kami tetap semangat dan berjuang hingga Allah ridha dan mempercayai kami menjadi Ayah dan Bunda Amiiinnn allohuma amin

One Response to “….dan akhirnya kami pun harus mengikhlaskannya….”

  1. Astrid 27/09/2012 at 02:18 #

    Hai, salam kenal Mbak. Terharu deh baca posting yang ini, saya juga pernah mengalaminya. Sekarang sedang mau memulai program kehamilan (lagi… dan lagiii… gak boleh bosen ya :p) dan terdampar di blogmu ini. Terima kasih atas cerita2nya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: