Cemburu pada Sahabatnya

28 Jul

Klik gambar untuk tau darimana saya ambil sumbernya

Walah, Dia Cemburu Pada Sahabatku

Kurang lebih, kata-kata di atas adalah judul persis di salah satu rubrik majalah Parents Guide (Vol.VI. No.4, edisi Januari 2008) yang saya temuin tadi pagi sewaktu ngebenahin tumpukan koran-koran/majalah-majalah lawas.

Saat ngeliat cove balita yang lutcuu dan cantik, saya jadi kepingin ngebuka-buka itu majalah utk sekadar fast reading ajah, tapi bgitu mata saya tertumbuk pada rubrik dengan judul menarik tersebut, saya jadi penasaran kepingin ngebaca sampe selesai, maklum lahh saya sadar hati kalo saya ini adalah seorang perempuan pencemburu.

Itung-itung lumayan lah sapa tau ada tips-tips menarik seputar mengatasi cemburu.

Dari judul dan ilustrasi foto di artikel itu, saya udah bisa nebak ke mana arah permasalahan yang akan dibahas, yakni seputar perasaan cemburu tapi objek yang dicemburui adalah sahabat dari pasangan kita, entah suami atau isteri. Nah tulisan saya di bawah ini terinspirasi dari rubrik tersebut.

Jujur saja, saya pernah/sering banget ngalamin perasaan cemburu seperti dalam kasus di atas, yakni mencemburui sahabat perempuan suami saya.

Singkat cerita, suami saya punya seorang sahabat lawan jenis yang itu-itu saja dan persahabatan mereka sudah terjalin sejak masih pitik (TK).

Terus terang, kalo saat ini ada yang nanya ke saya “apa saya masih suka cemburu dengan sahabat suami tersebut?” saya akan menjawabnya “masih”. Tapi apa mau dikata, mungkin udah dari sonohnya saya begituh, masih sulittttt banget menerima bahwa ada perempuan lain yang terkadang menuntut perhatian lebih pada suami kita. Palingan kalo perasaan cemburu itu lagi menclok di hati, saya cuma bisa memotivasi hati dengan bilang “just face it and enjoy it”.

Sebenarnya apa sihh perasaan cemburu itu?

Kalo kata orang kebanyakan, cemburu bisa diartikan sebagai perasaan cinta kepada pasangan.

Menurut jawaban seorang dokter dalam rubrik tanya jawab di situs sinarharapan, rasa cemburu adalah….

Buah tangan dari pikiran yang berpaham kecurigaan terhadap pasangan dekatnya. Hal ini sebenarnya merupakan perasaan yang kerap muncul dalam kehidupan manusia normal. Namun, tentu saja bila alasan yang mendasarinya masih masuk akal, objektif, berfakta, terkendali, serta tidak terjadi secara kontinu & terus menetap sehingga tidak membuat kita menjadi orang yang parno-an cuma karena dilanda perasaan cemburu.

Kalo menurut pendapat saya pribadi nih, cemburu itu aalah…..

Perasan yang gak ngenakin bangettt yang timbulnya lebih dikarenakan rasa takut akan terabaikan atau ternomorduakan yang penyebabnya bisa datang (pertama) dari keluarga seperti orang tua, adik-kakak, bahkan anak dan (kedua) dari pihak luar keluarga seperti sahabat lawan jenis suami atau isteri.

Kalo penyebabnya yang pertama, biasanya seiring waktu akan hilang dengan sendirinya karena sumbernya adalah keluarga yang sedarah.

Nahhh kalo penyebabnya yang kedua bagaimana?

Hemmm bukan tidak mungkin bisa menjadi sumber permasalahaan keluarga, khususnya bila persahabatan lawan jenis pasangan kita tersebut tidak dikelola secara bijaksana.

Sebagai contoh simak kasus yang saya kutip dari majalah yang sama.

Akhir-akhir ini, Nella kerap mengeluh pada Olga rekan kerja di kantornya. Hal yang dikeluhkan tak lain adalah suaminya sendiri yang bernama Tora. Nella merasa gak jelas dan kerap gelisah kebingungan menghadapi suami yang dicintainya itu. Ternyata, yang menjadi pemicunya tak lain adalah rasa ketidaksukaan Nella akan prilaku suaminya yang sering bertelpon ria dengan Astrid adik kelas suaminya saat SMA dulu yang sebenarnya sudah dikenal cukup baik oleh Nella. Dan yang lebih membuat Nella gusar adalah dia merasa bahwa suaminya sebegitu perhatiannya pada sahabat dekatnya itu ketimbang dirinya. “Dasar genit banget sih!” keluhnya.

Memang, dalam pergaulan kita tidak terlepas dari hubungan pertemanan dan pastinya kita pun memiliki seorang teman yang kedudukannya istimewa atau yang biasa diistilahkan sebagai seorang sahabat.

Dengan sahabat, biasanya kita bisa enjoy bercurhat ria, berhahahihi, berhikshiks bombay, gokil-gokilan, atau sekadar ngobrol-ngobrol gak penting, entah secara langsung atau melalui telpon.

Umumnya, keterikatan secara emosi antarsahabat terjadi karena adanya perasaan saling kecocokan dan saling membutuhkan satu sama lainnya dan bukan mustahil bila sahabat tersebut bisa lebih memahami kita ketimbang suami atau isteri.

Ikatan emosional persahabatan lawan jenis inilah yang terkadang justru menjadi sumbu kecemburuan suami atau isteri.. yahh kurang lebih seperti yang Nella rasakan pada cerita di atas.

Sebagai makhluk yang bersosialisasi, saya juga punya banyak sahabat, entah itu sahabat sejak dari bangku SD, SMP, SMA, Kuliah, atau sahabat di lingkungan kerja.

Tapiiii bisa dibilang sahabat-sahabat saya tersebut hampir semuanya berjenis kelamin perempuan, emang sihh ada 1 atau 2 orang laki-laki yang saya klaim sebagai sahabat, cuma yaaa sejak saya punya pacar (jamannya masih pacaran) dan terlebih sejak saya merit, persahabatan dengan teman laki-laki saya yaa hanya sebatas tanya-tanya kabar, ngucapin ultah, ngucapin selamat lebaran, atau tahun baru, selebihnya (misalnya jalan bareng) hampir dibilang tidak pernah lagi.

Sebenarnya sih, kadang kala ada juga perasaan kepingin lagi denger-denger cerita gila sahabat lawan jenis saya, yaa seputar kehidupan mereka terapdet atau sekadar ngobrol ngalor ngidul tentang cewek-cewek yang lagi dipedeketein. Tapi kok yaa saya merasa sadar diri ajah untuk memilih menghindari ketimbang menimbulkan salah paham atau sampai mencetuskan perang dunia perumahtanggaan.

Menurut seorang Psikolog (masih dalam majalah Parents Guide), perasaan cemburu pada sahabat pasangan biasanya dipersepsikan dengan sesuatu yang “lebih”, entah terkait kadar intensitas pertemuannya atau kadar kedekatannya.

Barangkali yaa… karena kedekatan inilah yang kadang bisa memblurkan hati pasangan sehingga menimbulkan rasa gelisah dan membuatnya jadi pencemburu.

Atau,

Barangkali hal ini juga bisa dikaitkan dengan otoritas akan teritori/area comfort zone/apalah namanya dari rasa memiliki “dia kan sudah milik saya” sehingga ketika ada seseorang yang memasuki teritori/area comfort zone kepemilikan tersebut, dianggap sebagai annoying thing, terlebih bila sahabat tersebut adalah lawan jenis.

Mungkin, keterikatan emosi suami/isteri kita pada sahabat perempuan/laki-laki sebenarnya adalah hal yang wajar dan semestinya bisa dimaklumi. Hanya saja, sepertinya ketika seseorang berada dalam ikatan perkawinan, keterikatan tersebut harus  memiliki beberapa pertimbangan lain yang perlu diperhitungkan, yakni perasaan isteri/suami.

Oleh karena itu, kalau saya boleh bilang, konsep persahabatan yang perlu dikedepankan bagi seorang suami beristeri atau seorang isteri bersuami adalah “teman kamu adalah teman saya dan teman saya adalah teman kamu”

Maksudnya, sahabat suami seharusnya bisa menjadi sahabat isteri dan begitu pula sebaliknya.

Saya akuin cara ini sebenarnya bisa menjadi jurus ampuh menghadang rasa cemburu suami/isteri karena dengan demikian kita bisa melihat hubungan persahabatan pasangan kita dengan sahabat lawan jenisnya dari sudut pandang yang lebih clear sehingga hal-hal yang mengarah pada praduga, cemburu, tak suka, iri, atau lainnya bisa sebesar mungkin dihindari.

Dan alangkah bijaksananya bila kita ada janji bertemu sahabat lawan jenis, pasangan kita turut dilibatkan/menemani atau dengan kata lain kita tidak bertemu hanya berduaan saja.

Atau bila pasangan tidak bisa menemani, kita sebaiknya memberitahukan tujuan dari pertemuannya, kapan, apa masih mungkin ditunda sampai pasangan kita bisa menemani, dan di mana tempat pertemuannya.

Hal ini penting untuk menghilangkan kesan tidak ada yang ditutup-tutupi, baik dalam hal perasaan, keinginan, atau perbuatan.

Berikut saya coba saripatikan beberapa tips untuk mengatasi perasaan cemburu yang bersumber pada persahabatan lawan jenis suami/isteri kita.

  • Sahabat memang bisa dijadikan tempat buangan curhatan kita dalam pelbagai persoalan. Namun, jangan mengungkapkan rahasia keluarga Anda padanya. Jika pasangan mengetahuinya, dia tentu akan cemburu karena Anda telah berbagi perkawinan dengan sahabat Anda.
  • Jangan mengomentari setiap praduga dengan emosi, bicarakan dalam situasi yang tenang. Bicarakan berdua tentang semua kecurigaan atau ketakutan yang dirasakan secara terbuka dan terimalah kata-katanya dengan bijaksana. Dengan demikian, akar permasalahannya bisa terlihat. Mungkin saja pasangan cemburu karena adanya akumulasi dari suatu masalah yang selama ini ditutup-tutupi hanya demi menghindari konflik.
  • Jangan mencoba melawan kecemburuan. Hal ini karena pada tingkat tertentu cemburu itu perlu dan merupakan hal yang sangat normal. Jadi, akui saja bahwa kita cemburu dan akui juga bahwa ternyata memang ada orang lain yang lebih hebat dari kita dalam beberapa hal.
  • Kembangkan sikap saling percaya. Membangun kepercayaan ibaratnya membangun sebuah reputasi. Oleh karena itu, berkacalah pada diri sendiri. Jangan bersikap egois dengan berkata “kamu gak boleh” padahal kita sendiri mem”boleh”kan hal itu. Cobalah untuk menepati janji, berbicara jujur, benar, dan lurus. Selain itu, berusahalah untuk menghindari hal-hal yang bisa menimbulkan kecurigaan dan kesan buruk bagi pasangan kita.

-Semoga bermanfaat-


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: