PAY it Forward

19 Jun

Seperti biasa, kalo udah terlanjur telat bangun, pasti nasib akan menakdirkan saya untuk dapet bis 63 yang pwenuh dan berjejalan. Tapi untungnya saya emang punya keahlian untuk menyelinap, jadinya tetep bisa nyari posisi berdiri favorit saya, yaitu di bagian depan, persis di depan undakan menuju tempat supir atau di area tempat duduk paling depan.

Entah emang karena lagi hoki ato apa, selang 20 menit dari bis jalan, tiba-tiba bapak-bapak yang duduk di kursi depan turun, pasti donngg gerbang tempat duduk bergeser dan cewek yang duduk persis di depan tempat saya berdiri otomatis bergerak pindah mengisi kursi yang kosong tersebut dan seperti sudah hukum alam, saya pun berhak menempati tempat duduk kosong yang ada di depan mata saya.

Uhummm asikk neh,, cumaaaaaa begitu saya nengok ke kanan, ko yaa kenapa mata saya ngeliat muka bapak-bapak tua, jadi ga tega dehhh. Akhirnya, karena berbagai pertimbangan (antara lain karena saya teringet sama bokap & karena saya ga mo dicap sebagai orang yang menyebalkan *seperti yang udah pernah saya ulas di sini), saya pun mempersilakan bapak itu untuk duduk yang disusul dengan ucapan terima kasih plus sedikit senyuman. Demi mendapatkan satu senyuman sepertinya kaki saya ga jadi berasa pegel deh *yang bener nies?*


Selang sepuluh menit, ternyata bapak tua yang saya kasih tempat duduk tadi, turun di Stasiun Tanjung Barat. Cuma berhubung posisi diri saya udah bergeser jauh dari beliau, akhirnya bapak itu mempersilakan duduk ke mba-mba yang dirinya persis di depannya. Saya pikir gapapalahh, kayanya tampang mba-mba itu lebih membutuhkan tempat duduk daripada saya *menghibur diri*.

Kopaja 63 yang sarat penumpang itu pun terus melaju, tapi begitu sampai deket pasar LA (Lenteng Agung-Red), tiba-tiba orang yang duduk di depan saya berdiri. Nahhhh, kali ini kayanya emang beneran hoki saya karena setelah saya tengak-tengok ke kanan ke kiri, orang-orang pada cuek bebek tuh. Jadiiilahhh ini kesempatan saya untuk duduk

Saya pun duduk dengan damay sentosa, yaaa lumayan lahh duduk sampe Perempatan gerbatama UI.

Well, kalo dipikir-pikir nih yaa, kejadian seperti yang saya critain di atas itu ko yaa sarat makna gitu. Saya langsung keingetan gituh sama film Pay it Forward yang intinya bercerita mengenai sebuah ide yang dicetuskan seorang anak untuk melakukan kebaikan kepada orang lain dan sebagai bayarannya, orang yang dibantu harus membayar di muka dengan melakukan satu kebaikan pada orang lain.

Emang sihh ga mirip-mirip amat, cuma dari pengalaman saya yang hanya terjadi dalam itungan menit tadi, saya merasa kalo istilah “berbuatlah kebaikan, insya Allah akan dibalas dengan kebaikan juga” itu bener adanya. Buktinya yaa ituuu tadi, saya ngasih tempat duduk ke bapak-bapak tua—bapak-bapak tua itu ngasih tempat duduk ke mba-mba—dan akhirnya tanpa diduga-duga saya dapet tempat duduk juga dari orang lain.


Mungkin kasus sederhana macam gitu cuma satu dari sekian banyak kebetulan yang terjadi. Cuma di sini saya berani bilang kalo rentetan kejadian di atas itu sebenernya memang merupakan suatu kejadian bermakna kekuatan rezeki yang didorong oleh kekuatan lain bernamakan “ikhlas” yang emang udah disetting oleh hati kita (ini saya petik dari isi buku kuantum ikhlas yang memang sekarang ini sedang saya baca)

Kenapa saya bisa ngomong bgini?

Karena semenjak kejadian di kopaja 63 itu, di sepanjang perjalanan saya dalam angkot dari gerbatama-UI menuju pasar PAL, hati saya jadi terus mikir tentang makna “kebaikan di balas dengan kebaikan“, sampai-sampai kata hati saya melakukan sedikit monolog yang kurang lebih isinya begini.

“Ko kayanya tadi itu kebetulan banget yaaa? kayanya diatur banget, mungkin bener kali kata orang kalau kita itu harus memulai hari kita dengan kebaikan karena niscaya hari kita akan ditutup dengan kebaikan juga. Mungkin bener juga apa yang orang bilang, kalo keiklasan melakukan kebaikan walau sekecil apapun, niscaya kita juga akan diganjar dengan kebaikan juga, entah dalam bentuk yang sama ato dalam bentuk lain seperti horee tiba-tiba hari ini saya dapat kabar akan naik gaji ato horeee hari ini saya dapet rezeki yang ga diduga-duga ato paling ga horeee ada yang nraktir saya makan siang hari ini, ato horeeee apa gituhh…. *isi sendiri titik-titiknya”
(sampe sini hati saya berhenti bermonolog karena saya harus turun dari angkot)

Ceritanya, sampe kira-kira tengah hari menjelang jam istirahat, saya sudah melupakan tentang hal-hal di atas. Tapi, begitu layar simple chatt di monitor saya kedip-kedip, saya akhirnya jadi keinget lagi, karena apa? karena chatt yang bersumber dari salah satu temen kantor saya itu isinya begini

“Teman-teman, nanti jam 12 ke kantin yaaa, ada makan-makan gratis”

Wakwawwww.. saya jadi menganga sendiri, karena info ini termasuk dari salah satu reka-rekaan hati saya waktu di dalam angkot tadi.

Ternyata, hari ini kantor saya mengundang orang-orang dari beberapa percetakan untuk ngomongin masalah proyek pengadaan buku dan temen saya tersebut udah memesan makanan ke kantin untuk makan siang orang-orang tersebut, tapi berhubung acaranya sudah kelar sebelum jam makan siang, jadilah mereka pulang semua dan mereka meninggalkan makanan yang sudah dipesan di kantin sebanyak kurang lebih 40 porsi…

Akhirnyaaa, siang tadi, saya dan temen-temen satu kantor makan siang bersama di kantin dengan menu yang lengkappp kapp kapp, nyam-nyam-nyam ada daging rendang, udang tepung, sup bakso, kerupuk, sampai buah. Trus yang terpenting, saya tidak perlu ngeluarin duit sepeser pun karena sudah dibayarin kantor… haduuhhh bahagianyaaaa hatikuhhh….

Lumayan banget gituuuhh menghemat pengeluaran sedikit, secara apa-apa sekarang kan mahal.

Sepertinya, kejadian “MAKAN SIANG GRATIS” saya tadi itu JUGA SUATU KEBETULAN YANG EMANG kesannya diatur banget karena hal itu juga salah satu dari apa yang kata hati saya pikirin. Emang dehhh ternyata apa yang disebut dengan kekuatan pikiran emang maha dasyat, yaa semacam LAW OF ATTRACTION gitu dehhh….


Sooo lakukan gerakan “PAY IT FORWARD” utk mewujudkan suatu lingkar kebaikan berbasis “MLM”.

Kutipan:
“Dunia tidak pernah diam. Meskipun dalam keheningan, selalu bergetar dalam vibrasi yang tidak terungkap oleh panca indra” -Albert Camus- (dalam Kuantum Ikhlas hal. 45)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: